BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kepribadian merupakan kombinasi dari pikiran, emosi
dan perilaku yang membuat seseorang unik, berbeda satu sama lain dan juga
bagaimana seseorang melihat diri sendiri. Karakter kepribadian secara mencolok
membedakan diri seseorang dengan orang lain. Sedangkan gangguan kepribadian
merupakan istilah umum untuk suatu jenis penyakit di mana cara berpikir,
memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi. Dalam
beberapa kasus, kemungkinan penderita tidak menyadari bahwa mereka memiliki
gangguan kepribadian karena cara berpikir dan berperilaku tampak alami bagi si
penderita, dan penderita mungkin menyalahkan orang lain atas keadaannya.
Sehingga penderita yang mengalami gangguan kepribadian yang akut saja yang
ditindak lanjuti dan diberi solusi penanganan oleh psikiater atau psikolog.
Sedangkan orang awam yang ingin mengetahui apakah kepribadian mereka mengalami
gangguan, terkadang mengalami kendala bagaimana solusi untuk bisa berkonsultasi
tanpa harus menemui seorang psikiater atau psikolog. Oleh karena itu diperlukan
sistem yang dapat mendiagnosis gangguan kepribadian dan dapat memberikan saran
penanggulangannya. Sistem ini kedepannya dapat digunakan oleh berbagai pihak
yang memerlukan seperti orang awam yang ingin tahu apakah mengalami gangguan
kepribadian serta mendapatkan saran penanggulanganya dari gangguan yang
didiagnosis.
Individu dikatakan mengalami gangguan
kepribadian apabila ciri kepribadiannya menampakkan pola perilaku maladaptif
dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Pola tersebut muncul pada
setiap situasi serta menganggu fungsi kehidupannya sehari-hari. Pada individu
ini, ciri kepribadian maladaptif itu tampak begitu melekat pada dirinya.
Biasanya mereka menolak untuk mendapatkan pertolongan dari terapis dan menolak
atau menyangkal bahwa dirinya memiliki suatu masalah. Individu dengan gangguan
kepribadian lebih tidak menyadari masalah mereka, mereka tidak merasa cemas
tentang perilakunya yang maladaptif sehingga mereka pun tidak memiliki motivasi
untuk mencari pertolongan dan sulit sekali untuk mendapatkan perbaikan atau
kesembuhan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
dari latar belakang di atas, rumusan
masalah sebagai berikut
1.2.1 Bagaimana
Definisi Gangguan Kepribadian?
1.2.2 Bagaimana Definisi Kepribadian Ganda?
1.2.3 Bagaimana Jenis-Jenis
Kepribadian?
1.2.4 Bagaimana Penyebab Gangguan Kepribadian?
2.2.5 Bagaimana Psikoterapi Untuk Gangguan Kepribadian?
1.1 Tujuan
Berdasarkan
latar belakang dan rumusan masalah di atas, tujuan dari makalah ini sebagai
berikut
1.3.1 Untuk Mengetahui
Definisi Gangguan Kepribadian.
1.3.2 Untuk Mengetahui
Definisi Kepribadian Ganda.
1.3.3
Untuk Mengetahui Jenis-Jenis
Kepribadian.
1.3.4
Untuk Mengetahui Penyebab Gangguan Kepribadian.
1.3.5
Untuk Mengetahui Psikoterapi Untuk Gangguan Kepribadian.
1.2
Manfaat
Berdasarkan latar belakang, rumusan
masalah, dan tujuan di atas makalah ini disusun agar dapat meningkatkan
pengetahuan Mahasiswa tentang Gangguan
Kepribadian, karena Mahasiswa keperawatan
yang nantinya akan menjadi seorang perawat harus mampu
mengetahui psikolog, seseorang, jadi
sangat penting untuk mempelajari berbagai macam kepribadian ini.
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Definisi Gangguan Kepribadian
Gangguan
kepribadian atau dikenal dengan
personality disorder adalah gangguan dalam perilaku yang memberikan dampak
atau dinilai negatif oleh masyarakat. Gangguan kepribadian pada umumnya
ditandai oleh masalah-masalah dimana individu secara tipikal mengalami
kesukaran dalam melaksanakan kehidupan dengan orang lain sebagaimana yang ia
kehendaki. Orang yang mengalami gangguan kepribadian ini melihat orang lain
sebagai hal yang membingungkan, tidak jelas dan tidak dapat diduga. Dan begitu
pula sebaliknya, ia akan melakukan tindakan sosial secara membingungkan.
2.2 Definisi Kepribadian Ganda
Kepribadian ganda atau yang biasa disebut dengan alter ego (bahasa latinnya "aku yang
lain") merupakan suatu keadaan dimana kepribadian seorang individu
terpecah sehingga muncul kepribadian yang lain. Dengan kata lain, bahwa seorang individu yang
menderita kepribadian ganda memiliki pribadi lebih dari satu ataupun memiliki 2
pribadi sekaligus. Kadang, si penderita tidak tahu bahwa ia memiliki
kepribadian ganda, dua pribadi yang ada dalam satu tubuh ini juga tidak saling
mengenal dan lebih parah lagi kadang-kadang dua pribadi ini saling bertolak belakang
sifatnya.
2.3 Jenis Kepribadian
Gangguan
kepribadian dibagi kedalam 3 kelompok besar yaitu:
Kelompok A
Terdiri dari gangguan kepribadian
paranoid, schizoid, dan schizotypal. Individu pada
ketiga gangguan ini menampilkan perilaku yang relatif sama yaitu eksentrik dan
aneh.
Kelompok B
Terdiri dari gangguan kepribadian antisosial,
boderline, histrionik, dan narsistik. Individu pada gangguan tersebut
manampakkan perilaku yang dramatis atau berlebih-lebihan, emosional, dan aneh.
Kelompok C
Terdiri dari gangguan kepribadian avaoidan, dependen, dan obsessive-compulsive. Individu dengan gangguan kepribadian
semacam ini tampak selalu cemas dan ketakutan.
2.3.1 Kelompok A
Gangguan Kepribadian Paranoid
Individu dengan gangguan kepribadian paranoid
biasanya ditandai dengan adanya kecurigaan dan ketidakpercayaan yang sangat
kuat kepada orang-orang di lingkungan sekitarnya. Mereka seringkali sangat
sensitive, mudah marah, dan menunjukkan sikap bermusuhan. Salah satu faktor
penting dalam gangguan kepribadian paranoid adalah adanya kecenderungan yang
tidak beralasan (gangguan ini biasanya dimulai sejak masa dewasa awal dan
tampak pada berbagai situasi dan kondisi) untuk menganggap perilaku orang lain
sebagai merendahkan dan mengancam diri mereka.
Individu dengan gangguan ini tidak mampu terlibat secara emosional dan menjaga
jarak dengan orang lain. Dalam situasi sosial, individu dengan gangguan ini
tampak efisien, praktis, dan cekatan, namun mereka seringkali menjadi pemicu
dari timbulnya masalah konflik dengan lingkungan. Individu dengan
gangguan kepribadian paranoid memiliki gangguan ini sepanjang hidup mereka.
Beberapa di antara mereka menunjukkan gangguan ini sebagai pertanda awal
sebelum akhirnya mereka menderita skizofrenia.
Gangguan Kepribadian Skizoid
Individu
dengan gangguan kepribadian skizoid biasanya menampilkan perilaku atau pola
menarik diri dan biasanya telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Mereka merasa tidak nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain, cenderung
introvert, dan afek mereka pun terbatas. Individu dengan gangguan kepribadian skizoid
biasanya memberikan tampilan bahwa mereka “dingin” dan penyendiri. Hal ini
terjadi karena mereka memiliki kebutuhan yang sangat rendah untuk berhubungan
secara emosional dengan orang lain. Kehidupan individu dengan gangguan ini biasanya
diwarnai dengan kegemaran pada aktifitas yang tidak melibatkan orang lain
(aktifitas mandiri) dan berhasil pada bidang-bidang yang tidak melibatkan
persaingan dengan orang lain.
Kehidupan seksual mereka biasanya hanya sebatas fantasi dan mereka sedapat
mungkin berusaha menunda kematangan seksualnya. Kaum pria biasanya tidak
menikah karena mereka tidak dapat melakukan hubungan yang intim dan kaum wanita
biasanya secara pasif akan menyetujui untuk menikah dengan kaum pria yang
agresif dan sangat menginginkan mereka menikah dengannya. Individu dengan gangguan kepribadian skizoid
biasanya mengalami kesulitan untuk mengekspresikan kemarahannya. Mereka
menyalurkan energi afektifnya (misalnya kemarahan) kepada bidang-bidang yang
tidak melibatkan orang lain. Walaupun individu ini sangat penyendiri dan
memiliki impian-impian atau fantasi, namun tidak berarti bahwa individu dengan
gangguan ini mengalami masalah kontak realitas. Mereka tetap mampu membedakan
antara realitas dan fantasi atau impian.
Gangguan Kepribadian Schizotypal
Individu
dengan gangguan kepribadian Schizotypal biasanya tampak aneh secara sangat
mencolok. Mereka memiliki pemikiran yang ajaib (magical), ide-ide yang
ganjil, ilusi dan derealisasi yang biasa mereka tampilkan dalam kehidupan
sehari-hari. Kadangkala isi pikiran mereka dipenuhi oleh fantasi yang berkaitan
dengan ketakutan dan fantasi yang biasanya hanya muncul pada masa kanak-kanak. Individu dengan gangguan ini mengalami masalah
dalam berpikir dan berkomunikasi. Mereka sensitive terhadap perasaan atau
reaksi orang lain terhadap dirinya, terutama reaksi yang negative seperti rasa
marah atau tidak senang. Mereka pun memiliki kemampuan yang rendah dalam
berinteraksi dengan orang lain dan kadangkala bertingkah laku aneh sehingga
akhirnya mereka seringkali terkucil dan tidak memiliki banyak teman.
2.3.2 Kelompok B
Gangguan Kepribadian Antisosial
Individu dengan gangguan kepribadian antisosial
biasanya secara terus menerus melakukan tingkah laku kriminal atau antisosial,
namun tingkah laku ini tidak sama dengan melakukan kriminalitas. Gangguan
kepribadian ini lebih menekankan pada ketidakmampuan individu untuk mengikuti
norma-norma sosial yang ada selama perkembangan masa remaja dan dewasa. Individu dengan kepribadian antisosial biasanya
mampu menampilkan tingkah laku yang menawan, memiliki kemampuan verbal yang baik, bahkan mampu menarik
perhatian lawan jenis dengan perilakunya yang pandai merayu. Di sisi lain,
individu yang sejenis seringkali menganggap perilaku individu dengan gangguan
ini sebagai manipulatif dan terlalu menuntut. Walaupun penampilan luarnya
tampak positif, apabila terapis menelusuri riwayat kehidupannya, biasanya
dipenuhi dengan perilaku berbohong, membolos, kabur dari rumah, mencuri,
berkelahi, pemakaian obat-obatan, dan berbagai aktivitas ilegal lainnya yang
biasanya telah dimulai sejak masa kanak-kanak. Mereka tidak dapat dipercaya dan
tidak memiliki tanggung jawab, oleh karena itu setelah dewasa individu dengan
kepribadian antisosial biasanya berkaitan dengan kasus penyikasaan pada
pasangan hidup, pada anak, pelacuran, dan mengandarai dalam keadaan mabuk.
Kepribadian ini lebih tampak pada daerah
miskin. Usia kemunculan gangguan ini adalah sebelum usia 15 tahun. Perempuan biasanya
menampakkan gejala ini sebelum masa pubertas dan pada anak laki-laki bahkan
sebelumnya. Pada populasi di penjara, prevelensi individu yang memiliki
kepribadian antisosial mencapai 75 persen. Gangguan kepribadian antisosial biasanya muncul
pada masa remaja akhir. Prognosisnya bervariasi. Gangguan yang umum terjadi
pada individu dengan kepribadian antisosial adalah gangguan depresi, gangguam
alkohol, dan zat-zat tertentu (obat-obatan terlarang).
Gangguan Kepribadian Borderline
Gangguan kepribadian borderline berada di perbatasan antara gangguan neurotik
dan psikotik dengan gejala-gejala afek, mood, tingkah laku dan self-image yang
sangat tidak stabil. Individu dengan gangguan kepribadian ini moodnya selalu
berubah-ubah. Tingkah laku dari individu dengan kepribadian borderline sangat tidak dapat diduga, akibatnya mereka
jarang mencapai hasil yang sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki (under-achiever).
Mereka juga memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri (self-destrictive).
Individu ini memiliki kemungkinan untuk
mengiris pergelangan tangannya dan menampilkan berbagai self-mutilation (tindakan
melukai diri sendiri, memotong) dengan tujuan mencari pertolongan dari orang lain, untuk mengekspresikan
kemarahan mereka, atau mengumpulkan afek-afek yang mereka rasakan. Individu dengan kepribadian borderline merasa bergantung pada orang lain, namun
mereka juga memiliki perasaan bermusuhan terhadap orang lain. Individu dengan
gangguan ini pun tidak tahan atau tidak dapat hidup apabila sendirian. Ketika
kesepian dan kebosanan melanda mereka, walaupun hanya untuk waktu yang singkat
mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukan teman, walaupun hanya
sebatas teman duduk. Diperkirakan gangguan ini muncul pada sekitar 1 atau 2 persen pada
populasi umum. Gangguan kepribadian ini dua kali lebih banyak pada kaum
perempuan ketimbang laki-laki.
Gangguan Kepribadian Histrionik
Gangguan Kepribadian Histrionik ditandai dengan
tingkah laku yang bersemangat (colorfull), dramatis atau suka menonjolkan diri
dan ekstrovert pada individu yang emosional dan mudah terstimulasi oleh
lingkungan. Individu dengan gangguan ini selalu berusaha
mencari perhatian dari lingkungan. Mereka cenderung untuk melebih-lebihkan
pikiran atau perasaan mereka dan membuat segala sesuatunya tampak lebih penting
dari yang sesungguhnya. Tingkah laku merayu (seduktif) umum terjadi baik pada kaum
pria maupun wanita dengan gangguan ini. Mereka pun kadangkala memiliki
fantasi-fantasi seksual dengan mereka akan berhubungan. Pada kenyataannya,
individu dengan gangguan histrionik biasanya memiliki masalah atau ganggan
disfungsi seksual, pada kaum wanita biasanya anorgasmik (masalah dalam
orgasme) dan pada kaum prianya impoten. Mereka melakukan tingkah laku
seduktif lebih karena ingin meyakinkan diri sendiri bahwa mereka menarik untuk
lawan jenisnya.
Individu dengan gangguan ini cenderung untuk
tidak menyadari perasaan-perasaan mereka dan tidak pula menyadari serta mampu
menjelaskan motivasi dari berbagai tindakan yang dilakukannya karena salah satu
mekanisme pertahanan diri yang mereka gunakan adalah represi. Apabila individu
ini dalam kondisi stress, kontak dengan realitas dapat terganggu. Gangguan kepribadian histrionik lebih banyak
ditemukan pada perempuan ketimbang laki-laki. Kadangkala gangguan ini bersamaan
dengan gangguan somatisasi dan penggunaan alkohol. Dengan bertambahnya usia, biasanya
gejala-gejala gangguan kepribadian histrionik ini akan menurun. Individu dengan
gangguan ini biasanya dapat terlibat dengan masalah hukum, penggunaan zat , dan
pelacuran karena mereka selalu memiliki tujuan untuk mencari dan mendapatkan
perhatian dari lingkungan.
Gangguan Kepribadian Narsistik
Individu dengan gangguan kepribadian
narsisistik memiliki perasaan yang kuat bahwa dirinya adalah orang yang penting
serta individu yang unik. Mereka merasa bahwa dirinya spesial dan berharap
mendapatkan perlakuan yang khusus pula. Oleh karena itu, mereka sangat sulit
atau tidak dapat menerima kritik dari orang lain. Sikap mereka mengakibatkan hubungan yang mereka
miliki biasanya rentan (mudah pecah) dan mereka dapat membuat orang lain sangat
marah karena penolakan mereka untuk mengikuti aturan yang ada. Individu dengan gangguan narsisistik tidak
memiliki self-estem yang mantap dan mereka rentan mengalami depresi.
Masalah-masalah yang biasanya muncul karena tingkah laku individu yang
narsisistik misalnya sulit membina hubungan interpersonal, penolakan dari orang
lain, kehilangan sesuatu atau masalah dalam pekerjaan.
Prevalensi mengalami peningkatan pada populasi
dengan orang tua yang selalu menanamkan ide-ide kepada anaknya bahwa mereka
cantik, berbakat, dan spesial secara berlebihan. Gangguan kepribadian narsisistik merupakan
gangguan yang kronis dan sulit untuk mendapat perawatan. Mereka biasanya tidak
dapat menerima kenyataan bahwa usia mereka bahwa sudah lanjut, mereka tetap
menghargai kecantikan, kekuatan, dan usia muda secara tidak wajar. Oleh karena
itu, mereka lebih sulit melewati krisis pada usia senja ketimbang individu lain
pada umumnya.
2.3.3 Kelompok C
Gangguan Kepribadian
Menghindar (Avaoidan)
Kunci dari individu dengan gangguan kepribadian menghindar
adalah sangat sensitif terhadap penolakan, sehingga akhirnya yang tampak adalah
tingkah laku menarik diri. Individu dengan gangguan ini adalah individu yang
memiliki ketakutan yang besar akan kemungkinan adanya kritik, penolakan atau
ketidaksetujuan, sehingga merasa enggan untuk menjalin hubungan, kecuali ia
yakin bahwa ia akan diterima. Individu tersebut bahkan terkadang
menghindari pekerjaan yang banyak memerlukan kontak interpersonal.
Dalam situasi sosial, ia sangat mengendalikan diri (kaku)
karena sangat amat takut mengatakan sesuatu yang bodoh atau dipermalukan atau
tanda-tanda lain dari kecemasan. Ia merasa yakin bahwa dirinya tidak kompeten
dan inferior, serta tidak berani mengambil risiko atau mencoba hal-hal
baru.Individu dengan gangguan kepribadian menghindar biasanya tidak memiliki
teman dekat. Secara umum dapat dikatakan bahwa sifat yang dominan pada individu
ini adalah malu-malu. Biasanya individu dengan gangguan kepribadian menghindar
biasanya memiliki sejarah fobia sosial atau malahan menjadi fobia sosial dalam
perjalanan gangguannya.
Gangguan Kepribadian Dependen
Individu dengan gangguan kepribadian
dependen cenderung meminta orang lain untuk memikul tanggung jawab terhadap
diri mereka, tidak percaya diri, merasa tidak nyaman apabila harus sendirian
(walaupun dalam jangka waktu yang singkat). Mereka cenderung submisif atau
patuh. Individu dengan gangguan ini pun tidak mampu membuat suatu
keputusan tanpa adanya nasehat, saran serta dukungan yang sangat banyak dari
lingkungannya. Mereka berusaha menghindar dan tidak bersedia posisi yang sarat
dengan tanggung jawab serta menjadi cemas apabila harus berperan sebagai
pemimpin. Mereka lebih memilih menjadi individu yang submisif yang patuh dan
mengikuti orang lain. Pesimisme, keraguan diri, pasivitas, dan ketakutan untuk
mengekspresikan perasaan seksual dan agresif menandai perilaku gangguan
kepribadian dependen.
Individu dengan kepribadian dependen
cenderung mengalami kesulitan dalam fungsi pekerjaan apabila mereka dituntut
untuk bekerja secara mandiri dan tidak disertai adanya pengawasan. Hubungan sosial
yang mereka jalin terbatas hanya pada orang-orang dimana mereka dapat
bergantung. Menurut teori psikodinamika, gangguan ini timbul karena adanya
regresi atau fiksasi pada masa oral karena orang tua yang sangat melindungi
atau orang tua yang mengabaikan kebutuhan tergantung. Pendekatan
kognitif-behavioral mengemukakan bahwa penyebabnya adalah karena kurang asertif
dan kecemasan dalam membuat keputusan.
Gangguan Kepribadian
Obsessive-Compulsive
Obsessive-compulsive personality disorder, yaitu gangguan
pada individu yang mempunyai gaya hidup yang perfeksionis. Gangguan ini ditandai dengan tingkah
laku yang keras kepala, kebimbangan, sangat teratur, dan cenderung
mengulang-ulang sesuatu hal. Kunci utama dari gangguan ini adalah kecenderungan
perfeksionis dan tidak fleksibel yang sudah menetap pada diri individu. Sebagai
contoh: individu dengan gangguan ini terus menerus mengecek seluruh kunci pintu
di rumah karena mereka merasa takut pada pencuri, mencuci tangan terus-menerus
kadangkala hingga kulit tangan menjadi luka. Individu dengan obsessive-compulsive
personality bersifat perfeksionis, sangat memperhatikan detail, aturan, jadwal,
dan sebagainya.
Individu yang
mengalami gangguan obsesif-kompulsif sangat memperhatikan detail sehingga
kadang ia tidak dapat menyelesaikan hal yang dikerjakannya. Ia lebih
berorientasi pada pekerjaan daripada bersantai-santai dan sangat sulit
mengambil keputusan karena takut membuat kesalahan. Selain itu, ia juga sangat
sulit mengalokasikan waktu karena terlalu memfokuskan diri pada hal-hal yang
tidak seharusnya. Biasanya ia memiliki hubungan interpersonal yang kurang baik
karena keras kepala dan meminta segala sesuatu dilakukan sesuai dengan
keinginannya. Istilah yang umum digunakan sebagai julukan bagi individu seperti
itu adalah “control freak”. Individu dengan gangguan kepribadian ini pada
umumnya bersifat serius, kaku, formal dan tidak fleksibel, terutama berkaitan
dengan isu-isu moral. Ia tidak mampu membuang objek yang tidak berguna,
walaupun objek tersebut tidak bernilai.
2.4 Penyebab gangguan kepribadaian
Kasus gangguan kepribadian umumnya
dimulai pada usia remaja dan saat memasuki usia dewasa. Ada beberapa faktor
yang diduga dapat memicu atau meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, di
antaranya:
- Adanya kelainan pada struktur atau komposisi kimia di dalam otak.
- Adanya riwayat gangguan kepribadian atau penyakit mental lainnya di dalam keluarga.
- Menghabiskan masa kecil di dalam kehidupan keluarga yang kacau.
- Perasaan diabaikan sejak kanak-kanak.
- Mengalami pelecehan sejak kanak-kanak, baik dalam bentuk verbal maupun fisik.
- Tingkat pendidikan yang rendah.
- Hidup di tengah-tengah keluarga berekonomi sulit.
Sebagian besar para ahli berpendapat bahwa gangguan
kepribadian disebabkan oleh kombinasi dari situasi-situasi atau latar belakang
kehidupan yang tidak menyenangkan dengan gen yang membentuk emosi seseorang
yang diwariskan dari orang tuanya.
2.5 Psikoterapi untuk
gangguan kepribadian
Untuk terapi psikologis sendiri ada
ragam jenisnya. Beberapa metode terapi yang mungkin dipakai untuk menangani
gangguan kepribadian adalah:
2.5.1 Terapi perilaku kognitif
Terapi ini bertujuan mengubah cara
berpikir dan bertindak pasien ke arah yang positif. Terapi ini didasarkan
kepada teori bahwa perilaku seseorang merupakan wujud dari cara berpikirnya.
Artinya, jika pikiran orang tersebut negatif, maka perilakunya akan negatif,
dan begitu pula sebaliknya.
2.5.2 Terapi psikodinamik
Terapi ini bertujuan mengeksplorasi
dan membenahi segala bentuk penyimpangan pasien yang telah ada sejak masa
kanak-kanak. Kondisi semacam ini terbentuk akibat pengalaman-pengalaman yang
negatif.
2.5.3 Terapi interpersonal
Terapi
ini didasarkan kepada teori bahwa kesehatan mental seseorang sangat dipengaruhi
oleh interaksi mereka dengan orang lain. Artinya jika interaksi tersebut
bermasalah, maka gejala-gejala yang merupakan bagian dari gangguan kepribadian,
seperti rasa cemas, ragu, dan tidak percaya diri, bisa terbentuk. Karena itulah
tujuan utama terapi ini adalah membenahi segala macam masalah yang terjadi di
dalam interaksi sosial pasien.
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas maka
dapat disimpulkan bahwa siapa saja
berpotensi untuk mengalami gangguan kepribadian. Karena gangguan kepribadian
tidak saja disebabkan oleh faktor genetika (dapat diturunkan), tapi juga
dipengaruhi oleh faktor temperamental, faktor biologis (hormon,
neurotransmitter dan elektrofisiologi), dan faktor psikoanalitik (yaitu adanya
fiksasi pada salah satu tahap di masa perkembangan psikoseksual dan juga tergantung
dari mekanisme pertahanan ego orang yang bersangkutan).
3.2 Saran
Jika kita menemukan atau mengetahui ada seseorang yang mengalami
gangguan kepribadian, maka kita harus selalu menjaga hubungan yang baik,
berinteraksi tanpa memandang sebelah mata, dan mengajaknya berobat. Pada
intinya jangan sampai orang yang mengalami gangguan kepribadian itu merasa
terangsingkan, sampai-sampai mengisolasikan diri terhadap lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
Fauziyah, Fitria.
2005. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa.
Jakarta: UI Press.
Maslim,
Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III.
Jakarta: Nuh jaya.
Maslim
rudi. 2015. Buku Saku
Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: Refika Aditama.
Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta. Kanisius
Sunaryo.
Psikologis untuk Keperawatan. Jakarta:
EGC.
Wiramiharja,
Sutarjo. 2007. Pengantar Psikologi Abnormal. Jakarta: EGC.
W.F, Maramis. 1980. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya:
Airlangga University Press.
Yatri. 2015. Apa itu Gangguan
Kepribadian: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Cara Mengobati. https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/gangguan-kepribadian
No comments:
Post a Comment