Friday, March 10, 2017

Makalah Gangguan Kepribadian



BAB I.  PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Kepribadian merupakan kombinasi dari pikiran, emosi dan perilaku yang membuat seseorang unik, berbeda satu sama lain dan juga bagaimana seseorang melihat diri sendiri. Karakter kepribadian secara mencolok membedakan diri seseorang dengan orang lain. Sedangkan gangguan kepribadian merupakan istilah umum untuk suatu jenis penyakit di mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi. Dalam beberapa kasus, kemungkinan penderita tidak menyadari bahwa mereka memiliki gangguan kepribadian karena cara berpikir dan berperilaku tampak alami bagi si penderita, dan penderita mungkin menyalahkan orang lain atas keadaannya. Sehingga penderita yang mengalami gangguan kepribadian yang akut saja yang ditindak lanjuti dan diberi solusi penanganan oleh psikiater atau psikolog. Sedangkan orang awam yang ingin mengetahui apakah kepribadian mereka mengalami gangguan, terkadang mengalami kendala bagaimana solusi untuk bisa berkonsultasi tanpa harus menemui seorang psikiater atau psikolog. Oleh karena itu diperlukan sistem yang dapat mendiagnosis gangguan kepribadian dan dapat memberikan saran penanggulangannya. Sistem ini kedepannya dapat digunakan oleh berbagai pihak yang memerlukan seperti orang awam yang ingin tahu apakah mengalami gangguan kepribadian serta mendapatkan saran penanggulanganya dari gangguan yang didiagnosis.
Individu dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya menampakkan pola perilaku maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Pola tersebut muncul pada setiap situasi serta menganggu fungsi kehidupannya sehari-hari. Pada individu ini, ciri kepribadian maladaptif itu tampak begitu melekat pada dirinya. Biasanya mereka menolak untuk mendapatkan pertolongan dari terapis dan menolak atau menyangkal bahwa dirinya memiliki suatu masalah. Individu dengan gangguan kepribadian lebih tidak menyadari masalah mereka, mereka tidak merasa cemas tentang perilakunya yang maladaptif sehingga mereka pun tidak memiliki motivasi untuk mencari pertolongan dan sulit sekali untuk mendapatkan perbaikan atau kesembuhan.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang  di atas, rumusan masalah sebagai berikut
1.2.1    Bagaimana Definisi Gangguan Kepribadian?
            1.2.2    Bagaimana Definisi Kepribadian Ganda?     
            1.2.3    Bagaimana Jenis-Jenis Kepribadian?
            1.2.4    Bagaimana Penyebab Gangguan Kepribadian?
            2.2.5    Bagaimana Psikoterapi Untuk Gangguan Kepribadian?

1.1  Tujuan
            Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, tujuan dari makalah ini sebagai berikut
            1.3.1    Untuk Mengetahui Definisi Gangguan Kepribadian.
            1.3.2    Untuk Mengetahui Definisi Kepribadian Ganda.
            1.3.3    Untuk Mengetahui Jenis-Jenis Kepribadian.
            1.3.4    Untuk Mengetahui Penyebab Gangguan Kepribadian.
1.3.5        Untuk Mengetahui Psikoterapi Untuk Gangguan Kepribadian.

1.2  Manfaat
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan di atas makalah ini disusun agar dapat meningkatkan pengetahuan Mahasiswa tentang Gangguan Kepribadian, karena Mahasiswa keperawatan yang nantinya akan menjadi seorang perawat harus mampu mengetahui psikolog, seseorang,  jadi sangat penting untuk mempelajari berbagai macam kepribadian ini.




BAB II.  PEMBAHASAN

2.1 Definisi Gangguan Kepribadian
Gangguan kepribadian atau dikenal dengan personality disorder adalah gangguan dalam perilaku yang memberikan dampak atau dinilai negatif oleh masyarakat. Gangguan kepribadian pada umumnya ditandai oleh masalah-masalah dimana individu secara tipikal mengalami kesukaran dalam melaksanakan kehidupan dengan orang lain sebagaimana yang ia kehendaki. Orang yang mengalami gangguan kepribadian ini melihat orang lain sebagai hal yang membingungkan, tidak jelas dan tidak dapat diduga. Dan begitu pula sebaliknya, ia akan melakukan tindakan sosial secara membingungkan.             

2.2 Definisi Kepribadian Ganda
Kepribadian ganda atau yang biasa disebut dengan alter ego               (bahasa latinnya "aku yang lain") merupakan suatu keadaan dimana kepribadian seorang individu terpecah sehingga muncul kepribadian yang lain. Dengan kata lain, bahwa seorang individu yang menderita kepribadian ganda memiliki pribadi lebih dari satu ataupun memiliki 2 pribadi sekaligus. Kadang, si penderita tidak tahu bahwa ia memiliki kepribadian ganda, dua pribadi yang ada dalam satu tubuh ini juga tidak saling mengenal dan lebih parah lagi kadang-kadang dua pribadi ini saling bertolak belakang sifatnya.

2.3 Jenis Kepribadian
Gangguan kepribadian dibagi kedalam 3 kelompok besar yaitu:
Kelompok A
Terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, schizoid, dan schizotypal. Individu pada ketiga gangguan ini menampilkan perilaku yang relatif sama yaitu eksentrik dan aneh.


Kelompok B
Terdiri dari gangguan kepribadian antisosial, boderline, histrionik, dan narsistik. Individu pada gangguan tersebut manampakkan perilaku yang dramatis atau berlebih-lebihan, emosional, dan aneh.
Kelompok C
Terdiri dari gangguan kepribadian avaoidan, dependen, dan obsessive-compulsive. Individu dengan gangguan kepribadian semacam ini tampak selalu cemas dan ketakutan.

2.3.1 Kelompok A
Gangguan Kepribadian Paranoid
            Individu dengan gangguan kepribadian paranoid biasanya ditandai dengan adanya kecurigaan dan ketidakpercayaan yang sangat kuat kepada orang-orang di lingkungan sekitarnya. Mereka seringkali sangat sensitive, mudah marah, dan menunjukkan sikap bermusuhan. Salah satu faktor penting dalam gangguan kepribadian paranoid adalah adanya kecenderungan yang tidak beralasan (gangguan ini biasanya dimulai sejak masa dewasa awal dan tampak pada berbagai situasi dan kondisi) untuk menganggap perilaku orang lain sebagai merendahkan dan mengancam diri mereka.
            Individu dengan gangguan ini tidak mampu terlibat secara emosional dan menjaga jarak dengan orang lain. Dalam situasi sosial, individu dengan gangguan ini tampak efisien, praktis, dan cekatan, namun mereka seringkali menjadi pemicu dari timbulnya masalah konflik dengan lingkungan.  Individu dengan gangguan kepribadian paranoid memiliki gangguan ini sepanjang hidup mereka. Beberapa di antara mereka menunjukkan gangguan ini sebagai pertanda awal sebelum akhirnya mereka menderita skizofrenia.

Gangguan Kepribadian Skizoid
            Individu dengan gangguan kepribadian skizoid biasanya menampilkan perilaku atau pola menarik diri dan biasanya telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Mereka merasa tidak nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain, cenderung introvert, dan afek mereka pun terbatas. Individu dengan gangguan kepribadian skizoid biasanya memberikan tampilan bahwa mereka “dingin” dan penyendiri. Hal ini terjadi karena mereka memiliki kebutuhan yang sangat rendah untuk berhubungan secara emosional dengan orang lain. Kehidupan individu dengan gangguan ini biasanya diwarnai dengan kegemaran pada aktifitas yang tidak melibatkan orang lain (aktifitas mandiri) dan berhasil pada bidang-bidang yang tidak melibatkan persaingan dengan orang lain.
            Kehidupan seksual mereka biasanya hanya sebatas fantasi dan mereka sedapat mungkin berusaha menunda kematangan seksualnya. Kaum pria biasanya tidak menikah karena mereka tidak dapat melakukan hubungan yang intim dan kaum wanita biasanya secara pasif akan menyetujui untuk menikah dengan kaum pria yang agresif dan sangat menginginkan mereka menikah dengannya. Individu dengan gangguan kepribadian skizoid biasanya mengalami kesulitan untuk mengekspresikan kemarahannya. Mereka menyalurkan energi afektifnya (misalnya kemarahan) kepada bidang-bidang yang tidak melibatkan orang lain. Walaupun individu ini sangat penyendiri dan memiliki impian-impian atau fantasi, namun tidak berarti bahwa individu dengan gangguan ini mengalami masalah kontak realitas. Mereka tetap mampu membedakan antara realitas dan fantasi atau impian.

Gangguan Kepribadian Schizotypal
            Individu dengan gangguan kepribadian Schizotypal biasanya tampak aneh secara sangat mencolok. Mereka memiliki pemikiran yang ajaib (magical), ide-ide yang ganjil, ilusi dan derealisasi yang biasa mereka tampilkan dalam kehidupan sehari-hari. Kadangkala isi pikiran mereka dipenuhi oleh fantasi yang berkaitan dengan ketakutan dan fantasi yang biasanya hanya muncul pada masa kanak-kanak. Individu dengan gangguan ini mengalami masalah dalam berpikir dan berkomunikasi. Mereka sensitive terhadap perasaan atau reaksi orang lain terhadap dirinya, terutama reaksi yang negative seperti rasa marah atau tidak senang. Mereka pun memiliki kemampuan yang rendah dalam berinteraksi dengan orang lain dan kadangkala bertingkah laku aneh sehingga akhirnya mereka seringkali terkucil dan tidak memiliki banyak teman.

2.3.2 Kelompok B
Gangguan Kepribadian Antisosial
Individu dengan gangguan kepribadian antisosial biasanya secara terus menerus melakukan tingkah laku kriminal atau antisosial, namun tingkah laku ini tidak sama dengan melakukan kriminalitas. Gangguan kepribadian ini lebih menekankan pada ketidakmampuan individu untuk mengikuti norma-norma sosial yang ada selama perkembangan masa remaja dan dewasa. Individu dengan kepribadian antisosial biasanya mampu menampilkan tingkah laku yang menawan, memiliki kemampuan verbal yang baik, bahkan mampu menarik perhatian lawan jenis dengan perilakunya yang pandai merayu. Di sisi lain, individu yang sejenis seringkali menganggap perilaku individu dengan gangguan ini sebagai manipulatif dan terlalu menuntut. Walaupun penampilan luarnya tampak positif, apabila terapis menelusuri riwayat kehidupannya, biasanya dipenuhi dengan perilaku berbohong, membolos, kabur dari rumah, mencuri, berkelahi, pemakaian obat-obatan, dan berbagai aktivitas ilegal lainnya yang biasanya telah dimulai sejak masa kanak-kanak. Mereka tidak dapat dipercaya dan tidak memiliki tanggung jawab, oleh karena itu setelah dewasa individu dengan kepribadian antisosial biasanya berkaitan dengan kasus penyikasaan pada pasangan hidup, pada anak, pelacuran, dan mengandarai dalam keadaan mabuk.
Kepribadian ini lebih tampak pada daerah miskin. Usia kemunculan gangguan ini adalah sebelum usia 15 tahun. Perempuan biasanya menampakkan gejala ini sebelum masa pubertas dan pada anak laki-laki bahkan sebelumnya. Pada populasi  di penjara, prevelensi individu yang memiliki kepribadian antisosial mencapai 75 persen. Gangguan kepribadian antisosial biasanya muncul pada masa remaja akhir. Prognosisnya bervariasi. Gangguan yang umum terjadi pada individu dengan kepribadian antisosial adalah gangguan depresi, gangguam alkohol, dan zat-zat tertentu (obat-obatan terlarang).

Gangguan Kepribadian Borderline
Gangguan kepribadian borderline  berada di perbatasan antara gangguan neurotik dan psikotik dengan gejala-gejala afek, mood, tingkah laku dan self-image yang sangat tidak stabil. Individu dengan gangguan kepribadian ini moodnya selalu berubah-ubah. Tingkah laku dari individu dengan kepribadian borderline  sangat tidak dapat diduga, akibatnya mereka jarang mencapai hasil yang sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki (under-achiever). Mereka juga memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri (self-destrictive).
Individu ini memiliki kemungkinan untuk mengiris pergelangan tangannya dan menampilkan berbagai self-mutilation (tindakan melukai diri sendiri, memotong) dengan tujuan mencari pertolongan dari orang lain, untuk mengekspresikan kemarahan mereka, atau mengumpulkan afek-afek yang mereka rasakan. Individu dengan kepribadian borderline  merasa bergantung pada orang lain, namun mereka juga memiliki perasaan bermusuhan terhadap orang lain. Individu dengan gangguan ini pun tidak tahan atau tidak dapat hidup apabila sendirian. Ketika kesepian dan kebosanan melanda mereka, walaupun hanya untuk waktu yang singkat mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukan teman, walaupun hanya sebatas teman duduk. Diperkirakan gangguan ini muncul pada sekitar 1 atau 2 persen pada populasi umum. Gangguan kepribadian ini dua kali lebih banyak pada kaum perempuan ketimbang laki-laki.

Gangguan Kepribadian Histrionik
Gangguan Kepribadian Histrionik ditandai dengan tingkah laku yang bersemangat (colorfull), dramatis atau suka menonjolkan diri dan ekstrovert pada individu yang emosional dan mudah terstimulasi oleh lingkungan.  Individu dengan gangguan ini selalu berusaha mencari perhatian dari lingkungan. Mereka cenderung untuk melebih-lebihkan pikiran atau perasaan mereka dan membuat segala sesuatunya tampak lebih penting dari yang sesungguhnya. Tingkah laku merayu (seduktif) umum terjadi baik pada kaum pria maupun wanita dengan gangguan ini. Mereka pun kadangkala memiliki fantasi-fantasi seksual dengan mereka akan berhubungan. Pada kenyataannya, individu dengan gangguan histrionik biasanya memiliki masalah atau ganggan disfungsi seksual, pada kaum wanita biasanya anorgasmik (masalah dalam orgasme) dan pada kaum prianya impoten. Mereka melakukan tingkah laku seduktif lebih karena ingin meyakinkan diri sendiri bahwa mereka menarik untuk lawan jenisnya.
Individu dengan gangguan ini cenderung untuk tidak menyadari perasaan-perasaan mereka dan tidak pula menyadari serta mampu menjelaskan motivasi dari berbagai tindakan yang dilakukannya karena salah satu mekanisme pertahanan diri yang mereka gunakan adalah represi. Apabila individu ini dalam kondisi stress, kontak dengan realitas dapat terganggu. Gangguan kepribadian histrionik lebih banyak ditemukan pada perempuan ketimbang laki-laki. Kadangkala gangguan ini bersamaan dengan gangguan somatisasi dan penggunaan alkohol. Dengan bertambahnya usia, biasanya gejala-gejala gangguan kepribadian histrionik ini akan menurun. Individu dengan gangguan ini biasanya dapat terlibat dengan masalah hukum, penggunaan zat , dan pelacuran karena mereka selalu memiliki tujuan untuk mencari dan mendapatkan perhatian dari lingkungan.

Gangguan Kepribadian Narsistik
Individu dengan gangguan kepribadian narsisistik memiliki perasaan yang kuat bahwa dirinya adalah orang yang penting serta individu yang unik. Mereka merasa bahwa dirinya spesial dan berharap mendapatkan perlakuan yang khusus pula. Oleh karena itu, mereka sangat sulit atau tidak dapat menerima kritik dari orang lain. Sikap mereka mengakibatkan hubungan yang mereka miliki biasanya rentan (mudah pecah) dan mereka dapat membuat orang lain sangat marah karena penolakan mereka untuk mengikuti aturan yang ada. Individu dengan gangguan narsisistik tidak memiliki self-estem yang mantap dan mereka rentan mengalami depresi. Masalah-masalah yang biasanya muncul karena tingkah laku individu yang narsisistik misalnya sulit membina hubungan interpersonal, penolakan dari orang lain, kehilangan sesuatu atau masalah dalam pekerjaan.
Prevalensi mengalami peningkatan pada populasi dengan orang tua yang selalu menanamkan ide-ide kepada anaknya bahwa mereka cantik, berbakat, dan spesial secara berlebihan. Gangguan kepribadian narsisistik merupakan gangguan yang kronis dan sulit untuk mendapat perawatan. Mereka biasanya tidak dapat menerima kenyataan bahwa usia mereka bahwa sudah lanjut, mereka tetap menghargai kecantikan, kekuatan, dan usia muda secara tidak wajar. Oleh karena itu, mereka lebih sulit melewati krisis pada usia senja ketimbang individu lain pada umumnya.

2.3.3 Kelompok C
Gangguan Kepribadian Menghindar (Avaoidan)
Kunci dari individu dengan gangguan kepribadian menghindar adalah sangat sensitif terhadap penolakan, sehingga akhirnya yang tampak adalah tingkah laku menarik diri. Individu dengan gangguan ini adalah individu yang memiliki ketakutan yang besar akan kemungkinan adanya kritik, penolakan atau ketidaksetujuan, sehingga merasa enggan untuk menjalin hubungan, kecuali ia yakin bahwa ia akan diterima. Individu tersebut bahkan terkadang menghindari pekerjaan yang banyak memerlukan kontak interpersonal.
Dalam situasi sosial, ia sangat mengendalikan diri (kaku) karena sangat amat takut mengatakan sesuatu yang bodoh atau dipermalukan atau tanda-tanda lain dari kecemasan. Ia merasa yakin bahwa dirinya tidak kompeten dan inferior, serta tidak berani mengambil risiko atau mencoba hal-hal baru.Individu dengan gangguan kepribadian menghindar biasanya tidak memiliki teman dekat. Secara umum dapat dikatakan bahwa sifat yang dominan pada individu ini adalah malu-malu. Biasanya individu dengan gangguan kepribadian menghindar biasanya memiliki sejarah fobia sosial atau malahan menjadi fobia sosial dalam perjalanan gangguannya.

Gangguan Kepribadian Dependen
Individu dengan gangguan kepribadian dependen cenderung meminta orang lain untuk memikul tanggung jawab terhadap diri mereka, tidak percaya diri, merasa tidak nyaman apabila harus sendirian (walaupun dalam jangka waktu yang singkat). Mereka cenderung submisif atau patuh. Individu dengan gangguan ini pun tidak mampu membuat suatu keputusan tanpa adanya nasehat, saran serta dukungan yang sangat banyak dari lingkungannya. Mereka berusaha menghindar dan tidak bersedia posisi yang sarat dengan tanggung jawab serta menjadi cemas apabila harus berperan sebagai pemimpin. Mereka lebih memilih menjadi individu yang submisif yang patuh dan mengikuti orang lain. Pesimisme, keraguan diri, pasivitas, dan ketakutan untuk mengekspresikan perasaan seksual dan agresif menandai perilaku gangguan kepribadian dependen.
Individu dengan kepribadian dependen cenderung mengalami kesulitan dalam fungsi pekerjaan apabila mereka dituntut untuk bekerja secara mandiri dan tidak disertai adanya pengawasan. Hubungan sosial yang mereka jalin terbatas hanya pada orang-orang dimana mereka dapat bergantung. Menurut teori psikodinamika, gangguan ini timbul karena adanya regresi atau fiksasi pada masa oral karena orang tua yang sangat melindungi atau orang tua yang mengabaikan kebutuhan tergantung. Pendekatan kognitif-behavioral mengemukakan bahwa penyebabnya adalah karena kurang asertif dan kecemasan dalam membuat keputusan.

Gangguan Kepribadian Obsessive-Compulsive
Obsessive-compulsive personality disorder, yaitu gangguan pada individu yang mempunyai gaya hidup yang perfeksionis. Gangguan ini ditandai dengan tingkah laku yang keras kepala, kebimbangan, sangat teratur, dan cenderung mengulang-ulang sesuatu hal. Kunci utama dari gangguan ini adalah kecenderungan perfeksionis dan tidak fleksibel yang sudah menetap pada diri individu. Sebagai contoh: individu dengan gangguan ini terus menerus mengecek seluruh kunci pintu di rumah karena mereka merasa takut pada pencuri, mencuci tangan terus-menerus kadangkala hingga kulit tangan menjadi luka. Individu dengan obsessive-compulsive personality bersifat perfeksionis, sangat memperhatikan detail, aturan, jadwal, dan sebagainya.
 Individu yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif sangat memperhatikan detail sehingga kadang ia tidak dapat menyelesaikan hal yang dikerjakannya. Ia lebih berorientasi pada pekerjaan daripada bersantai-santai dan sangat sulit mengambil keputusan karena takut membuat kesalahan. Selain itu, ia juga sangat sulit mengalokasikan waktu karena terlalu memfokuskan diri pada hal-hal yang tidak seharusnya. Biasanya ia memiliki hubungan interpersonal yang kurang baik karena keras kepala dan meminta segala sesuatu dilakukan sesuai dengan keinginannya. Istilah yang umum digunakan sebagai julukan bagi individu seperti itu adalah “control freak”. Individu dengan gangguan kepribadian ini pada umumnya bersifat serius, kaku, formal dan tidak fleksibel, terutama berkaitan dengan isu-isu moral. Ia tidak mampu membuang objek yang tidak berguna, walaupun objek tersebut tidak bernilai.

2.4 Penyebab gangguan kepribadaian
Kasus gangguan kepribadian umumnya dimulai pada usia remaja dan saat memasuki usia dewasa. Ada beberapa faktor yang diduga dapat memicu atau meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, di antaranya:
  • Adanya kelainan pada struktur atau komposisi kimia di dalam otak.
  • Adanya riwayat gangguan kepribadian atau penyakit mental lainnya di dalam keluarga.
  • Menghabiskan masa kecil di dalam kehidupan keluarga yang kacau.
  • Perasaan diabaikan sejak kanak-kanak.
  • Mengalami pelecehan sejak kanak-kanak, baik dalam bentuk verbal maupun fisik.
  • Tingkat pendidikan yang rendah.
  • Hidup di tengah-tengah keluarga berekonomi sulit.
Sebagian besar para ahli berpendapat bahwa gangguan kepribadian disebabkan oleh kombinasi dari situasi-situasi atau latar belakang kehidupan yang tidak menyenangkan dengan gen yang membentuk emosi seseorang yang diwariskan dari orang tuanya.

2.5 Psikoterapi untuk gangguan kepribadian
Untuk terapi psikologis sendiri ada ragam jenisnya. Beberapa metode terapi yang mungkin dipakai untuk menangani gangguan kepribadian adalah:
2.5.1 Terapi perilaku kognitif
Terapi ini bertujuan mengubah cara berpikir dan bertindak pasien ke arah yang positif. Terapi ini didasarkan kepada teori bahwa perilaku seseorang merupakan wujud dari cara berpikirnya. Artinya, jika pikiran orang tersebut negatif, maka perilakunya akan negatif, dan begitu pula sebaliknya.
2.5.2 Terapi psikodinamik
Terapi ini bertujuan mengeksplorasi dan membenahi segala bentuk penyimpangan pasien yang telah ada sejak masa kanak-kanak. Kondisi semacam ini terbentuk akibat pengalaman-pengalaman yang negatif.
2.5.3 Terapi interpersonal
            Terapi ini didasarkan kepada teori bahwa kesehatan mental seseorang sangat dipengaruhi oleh interaksi mereka dengan orang lain. Artinya jika interaksi tersebut bermasalah, maka gejala-gejala yang merupakan bagian dari gangguan kepribadian, seperti rasa cemas, ragu, dan tidak percaya diri, bisa terbentuk. Karena itulah tujuan utama terapi ini adalah membenahi segala macam masalah yang terjadi di dalam interaksi sosial pasien.







BAB III.  PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa siapa saja berpotensi untuk mengalami gangguan kepribadian. Karena gangguan kepribadian tidak saja disebabkan oleh faktor genetika (dapat diturunkan), tapi juga dipengaruhi oleh faktor temperamental, faktor biologis (hormon, neurotransmitter dan elektrofisiologi), dan faktor psikoanalitik (yaitu adanya fiksasi pada salah satu tahap di masa perkembangan psikoseksual dan juga tergantung dari mekanisme pertahanan ego orang yang bersangkutan).

3.2 Saran                                                                                                                       
Jika kita menemukan atau mengetahui ada seseorang yang mengalami gangguan kepribadian, maka kita harus selalu menjaga hubungan yang baik, berinteraksi tanpa memandang sebelah mata, dan mengajaknya berobat. Pada intinya jangan sampai orang yang mengalami gangguan kepribadian itu merasa terangsingkan, sampai-sampai mengisolasikan diri terhadap lingkungannya.








DAFTAR PUSTAKA

Fauziyah, Fitria. 2005. Psikologi  Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: UI Press.
Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta: Nuh jaya.
Maslim rudi. 2015. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: Refika Aditama.
Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal.  Yogyakarta. Kanisius
Sunaryo. Psikologis untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
Wiramiharja, Sutarjo. 2007. Pengantar Psikologi Abnormal. Jakarta: EGC.
W.F, Maramis. 1980. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Yatri. 2015. Apa itu Gangguan Kepribadian: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Cara Mengobati. https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/gangguan-kepribadian
              .2016. Gangguan Kepribadian. http://kamuskesehatan. Com /arti/gangguan-kepribadian/

No comments:

Post a Comment