Tuesday, May 14, 2013

Gunung Api di Indonesia



A.      Gunung Api Kaldera

Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah gunung aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 8°15' LS dan 118° BT.

1.      1.Gunung krakatau
Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa.

B.       Gunung Api Maar

1.     1. Gunung sibayak
Gunung Sibayak adalah sebuah gunung yang menghadap ke kota Brastagi di Sumatera Utara. Orang Batak Karo menyebut gunung Sibayak dengan sebutuan "gunung Raja". Gunung Sibayak merupakan gunung berapi dan meletus terakhir tahun 1881. Gunung ini berada di sekitar 50 kilometer barat daya Kota Medan.


C.        Gunung Api Strato

1.          Gunung merbabu
Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato (lihat Gunung Berapi) yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan,Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara, Propinsi Jawa Tengah.


1.      2.Gunung Arjuna
Gunung Arjuno (atau Gunung Arjuna, dalam nama kuna) terletak di Malang, Jawa Timur, bertipe Strato dengan ketinggian 3.339 m dpl dan berada di bawah Pengelolaan Tahura Raden Soeryo. Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu. Nama Arjuno berasal dari salah satu tokoh pewayangan Mahabharata, Arjuna.

2.      3..Gunung Talang
Gunung Talang (nama lainnya Salasi atau Sulasi) merupakan gunung berapi yang terletak terletak di kabupaten Solok, provinsi Sumatera Barat, Indonesia.
Gunung ini bertipe stratovolcano dengan ketinggian 2.597 m, merupakan salah satu dari gunung api aktif di Sumatera Barat, dan salah satu kawahnya menjadi sebuah danau yang disebut dengan Danau Talang. Gunung Talang sudah pernah meletus sejak tahun 1833 sampai dengan tahun 2007.
3.     
 4.Gunung Soputan
Gunung Soputan adalah sebuah gunung berapi yang terletak di provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Gunung ini tercatat telah terjadi letusan yang cukup sering dalam rentang waktu beberapa tahun sekali.


D.      Gunung Api Perisai
Gunung Sinabung adalah sebuah gunung di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Sinabung bersama Sibayak di dekatnya adalah dua gunung berapi aktif di Sumatera Utara. Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter. Gunung ini menjadi puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600.

_ smoga bermanfaat kawan kawan.kalaw gambar nya cari sendiri yeach
hehehe.... :)


Saturday, May 11, 2013

Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia


 



“Nenek moyangku seorang pelaut…”

Begitulah bunyi sebuah lirik lagu yang sejak kecil sering kita nyanyikan. Tapi tahukah kalian siapa sebenarnya nenek moyang kita itu? Siapa kira-kira mereka yang ribuan tahun lalu memijakkan kakinya dan memulai kehidupan disini? Menurut salah satu analisa sejarah, nenek moyang bangsa kita berasal dari kawasan Indochina. Namun disamping teori itu, banyak juga teori lain yang hingga kini turut memperkaya khazanah ilmu pengetahuan tentang awal mula peradaban Nusantara. Teori-teori apa saja yang berkembang? Mari kita ulas satu persatu:

Prof. Dr. H. Kern

Ilmuwan asal Belanda ini menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Kern berpendapat bahwa bahasa - bahasa yang digunakan di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia dan Mikronesia memiliki akar bahasa yang sama, yakni bahasa Austronesia. Kern menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia berawal dari satu daerah dan menggunakan bahasa Campa. Menurutnya, nenek-moyang bangsa Indonesia menggunakan perahu-perahu bercadik menuju kepulauan Indonesia. Pendapat Kern ini didukung oleh adanya persamaan nama dan bahasa yang dipergunakan di daerah Campa dengan di Indonesia, misalnya kata “kampong” yang banyak digunakan sebagai kata tempat disana. Selain nama geografis, iIstilah-istilah binatang dan alat perang pun banyak kesamaannya. Tetapi pendapat ini disangkal oleh K. Himly dan P.W. Schmidt berdasarkan perbendaharaan bahasa Campa.

Van Heine Geldern

Pendapatnya tak jauh berbeda dengan Kern bahwa bahasa Indonesia berasal dari Asia Tengah. Teori Geldern ini didukung oleh penemuan-penemuan sejumlah artefak, sebagai perwujudan budaya, yang ditemukan di Indonesia mempunyai banyak kesamaan dengan yang ditemukan di daratan Asia.

Max Muller 

Berpendapat lebih spesifik, yaitu bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Asia Tenggara. Namun, alasan Muller tak didukung oleh alasan yang jelas.

Willem Smith 

Melihat asal-usul bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa oleh orang-orang Indonesia. Willem Smith membagi bangsa-bangsa di Asia atas dasar bahasa yang dipakai, yakni bangsa yang berbahasa Togon, bangsa yang berbahasa Jerman dan bangsa yang berbahasa Austria. Lalu bahasa Austria dibagi dua, yaitu bangsa yang berbahasa Austro Asia dan bangsa yang berbahasa Austronesia. Bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia ini mendiami wilayah Indonesia, Melanesia dan Polinesia.

Hogen 

Menyatakan bahwa bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatera. Bangsa Melayu ini kemudian bercampur dengan bangsa Mongol yang disebut bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutro Melayu (Melayu Muda). Bangsa Proto Melayu kemudian menyebar di sekitar wilayah Indonesia pada tahun 3.000 hingga 1.500 SM, sedangkan bangsa Deutro Melayu datang ke Indonesia sekitar tahun 1.500 hingga 500 SM.

Drs. Moh. Ali 

Ali menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan, Cina. Pendapat ini dipengaruhi oleh pendapat Mens yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang terdesak oleh bangsa-bangsa lebih kuat sehingga mereka pindah ke selatan, termasuk ke Indonesia. Ali mengemukakan bahwa leluhur orang Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar yang terletak di daratan Asia dan mereka berdatangan secara bergelombang. Gelombang pertama berlangsung dari 3.000 hingga 1.500 SM (Proto Melayu) dan gelombang kedua terjadi pada 1.500 hingga 500 SM (Deutro Melayu). Ciri-ciri gelombang pertama adalah kebudayaan Neolitikum dengan jenis perahu bercadik-satu, sedangkan gelombang kedua menggunakan perahu bercadik-dua.

Prof. Dr. Krom 

Menguraikan bahwa masyarakat awal Indonesia berasal dari Cina Tengah karena di daerah Cina Tengah banyak terdapat sumber sungai besar. Mereka menyebar ke kawasan Indonesia sekitar 2.000 SM sampai 1.500 SM.

Mayundar 

Berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, lalu menyebar ke wilayah Indochina terus ke daerah Indonesia dan Pasifik. Teori Mayundar ini didukung oleh penelitiannya bahwa bahasa Austronesia merupakan bahasa Muda di India bagian timur.

Dr. Brandes 

Berpendapat bahwa suku-suku yang bermukim di kepulauan Indonesia memiliki persamaan dengan bangsa-bangsa yang bermukim di daerah-daerah yang membentang dari sebelah utara Pulau Formosa di Taiwan, sebelah barat Pulau Madagaskar dansebelah timur hingga ke tepi pantai bata Amerika. Brandes melakukan penelitian ini berdasarkan perbandingan bahasa.

Prof. Mohammad Yamin

Yamin menentang teori-teori di atas. Ia menyangkal bahwa orang Indonesia berasal dari luar kepulauan Indonesia. Menurut pandangannya, orang Indonesia adalah asli berasal dari wilayah Indonesia sendiri. Ia bahkan meyakini bahwa ada sebagian bangsa atau suku di luar negeri yang berasal dari Indonesia. Yamin menyatakan bahwa temuan fosil dan artefak lebih banyak dan lengkap di Indonesia daripada daerah lain di Asia, misalnya temuan fosil Homo atau Pithecanthropus Soloensis dan Wajakensis yang tak ditemukan di daerah Asia lain termasuk Indochina (Asia Tenggara).

Lalu bagaimana pendapat kalian?
Yang harus kita sadari adalah teori-teori di atas merupakan produksi masa lalu dimana ilmu arkeologi belum dilengkapi pengetahuan genetik dan linguistik yang tajam. Teori saat itu hanya dibangun dengan melihat dari segi fisik saja. 

Sebenarnya jawaban atas pertanyaan “Siapakah nenek moyang bangsa Indonesia?” dapat dikaji dari ilmu arkeologi, ilmu linguistik, ilmu antropologi budaya, ilmu paleoantropologi dan ilmu genetika. Para ahli purbakala masa kini telah menelusurinya dan meneliti endapan tanah purba 1,5 juta tahun yang lalu. Endapan purba tersebut dikenal dengan nama Plestosen Bawah dan ditemukan di kawasan Jawa Tengah serta Jawa Timur. Dari fosil-fosil yang terdapat di endapan purba tersebut para ahli dapat meneliti perikehidupan manusia purba.

Dari peta distribusi geografis, ada jenis makhluk yang bernama Homo Erectus. Makhluk ini menunjukkan bahwa Nusantara kita adalah daerah migrasi makhluk ini. Mereka tersebar dari Afrika sampai ke tenpat kita berada saat ini. Homo erectus diperkirakan lahir di Afrika, 1,7 juta tahun yang lalu. Wujud makhluk ini seperti monyet besar.

Apakah nenek moyang manusia Indonesia adalah makhluk Homo Erectus ini? Bukan! Makhluk yang berwujud mendekati kera tersebut sudah punah. Tidak punya keturunan lagi. Dan itu sudah terjadi berabad-abad yang lalu.

Nenek moyang manusia konon, dari makhluk yang bernama Homo Sapiens, yang lahir ratusan ribu tahun silam. Fosil-fosil Homo Sapiens ditemukan di gua-gua purba zaman pra sejarah. Mereka hidup di gua-gua pada era Helosen. Jadi makhluk Homo Erectus dan Homo Sapiens tidak punya “hubungan darah”. Homo Sapiens bukan keturunan Homo Erectus. Lebih tegas lagi, dari kajian ilmu kepurbakalaan dapat diketahui bahwa manusia bukan keturunan kera! Tentunya termasuk manusia yang berdiam di Nusantara ini. 

Dari Ilmu Linguistik
Dari kajian ilmu linguistik atau ilmu bahasa, bangsa Indonesia adalah penutur bahasa Austronesia. Sekitar 5.000 tahun lalu, bahasa ini sudah digunakan oleh manusia di Nusantara. Bahasa ini konon akar dari bahasa Melayu. Bahasa Austronesia memiliki penyebaran paling luas di dunia, khususnya sebelum zaman penjajahan oleh bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa Asia-Afrika.

Bahasa Austronesia berkembang menjadi 1.200 bahasa lokal dari Madagaskar di barat sampai di Pulau Paskah di timur, dari Taiwan di utara sampai Selandia Baru di selatan. Penyebaran bahasa Austronesia lebih luas dibanding penyebaran bahasa Indo Eropa, Aria Barat dan Aria Timur atau Semit.

Keturunan Bahasa Austronesia tumbuh dan berkembang ratusan tahun dan digunakan oleh 300 juta manusia di Asia Timur dan Asia Pasifik. Para penutur bahasa Austronesia beragam, mulai dari para nelayan, pelaut, pedagang, bangsawan, pengeliling dunia, sampai kaum petani di pedalaman. Sekitar 80 juta manusia penutur bahasa Austronesia hidup di kepulauan Nusantara dan kepulauan Pasifik.

Jadi siapa nenek moyang manusia yang bertutur dengan menggunakan bahasa Austronesia dan tinggal di Nusantara itu? Hal tersebut masih menjadi kontroversi di kalangan para ahli. Pendapat mereka bermacam ragam, ada yang mengatakan dari Formosa (Taiwan),  Hainan (Hongkong), Yunan (China Selatan), Filipina atau Jepang.

Dari Bahasa Austrik
Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Harry Truman Simanjuntak pernah berpendapat, rumpun bahasa Austronesia merupakan bagian dari bahasa Austrik. Bahasa ini berawal dari daratan Asia, kemudian terbagi dua, yaitu Austro Asiatik dan Austronesia.

Austro Asiatik menyebar ke daratan Asia, misalnya di Indo-China, Thailand dan Munda di India Selatan. Sedang bahasa Austronesia menyebar ke selatan dan di tenggara seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, sampai ke kepulauan Pasifik.

Menurut teori “Model Out of Taiwan”, bahasa Austronesia mulai mengkristal di Formosa atau Taiwan. Penutur bahasa ini bermigrasi dari daratan China Selatan 6.000 tahun yang lalu. Diperkirakan mereka berasal dari Fujian atau Guangdong, dua daerah di China Selatan.

Proses kristalisasi bahasa Austronesia di Taiwan kemudian melahirkan budaya “Da-pen-keng”. Budaya tersebut berkembang dan bercabang-cabang menjadi sejumlah dialek lokal. Itu terjadi sekitar 4.700 tahun lalu. Pada masa Austronesia awal tersebut manusia sudah mengerti memelihara babi dan anjing, sudah mengenal budidaya padi meski masih sederhana, menanam ubi dan tebu, membuat kain dari kulit kayu dan membuat gerabah.

Ratusan tahun kemudian budaya mereka meningkat lagi. Misalnya mulai menggunakan peralatan dari batu dan tulang dan mulai membuat kano, perahu kecil dan sempit.

Sejumlah kelompok penutur bahasa Austronesia ini kemudian mulai berkelana ke selatan lewat lautan dengan menggunakan perahu yang sederhana, yang lebih banyak digerakkan oleh arus ombak lautan. Mereka terus bergerak ke arah selatan. Di antara mereka ada yang bergerak ke arah Asia Tenggara, sampai ke Filipina dan Kalimantan Utara. Itu terjadi 4.500 tahun yang lalu.

Kelompok pemukim awal di Filipina atau di Kalimantan Utara ini akhirnya menciptakan bahasa “Proto Malayo Polynesia” (PMP) yang merupakan cabang dari induknya, Proto Austronesia.

Di kawasan baru tersebut perbendaharaan budaya mereka bertambah. Budidaya tanaman yang berasal dari biji-bijian mulai bertambah, misalnya mulai menanam kelapa, sagu, sukun dan pisang. Pada saat itu perhubungan laut juga mulai meningkat. Teknologi pelayaran mereka mulai canggih. Maka diantara mereka mulai ada yang bermigrasi ke pulau-pulau di Nusantara, misalnya ke Sulawesi dan Maluku. Bahkan ada yang sampai ke pulau Mikronesia, Lautan Pasifik.

Dalam tahap selanjutrnya, puluhan tahun kemudian mereka ada yang bermigrasi ke Jawa, Sumatra dan Semenanjung Malaka. Ke arah timur, mereka menuju ke Nusa Tenggara, Maluku, Papua Barat, sampai ke kepulauan Bismarck. Di kawasan timur ini, budaya tanaman biji-bijian mereka tinggalkan dan beralih ke budidaya berbagai tanaman umbi-umbian. Bumi dan alam di Nusantara bagian timur ternyata tidak cocok untuk tanaman biji-bijian.

Menurut pakar arkeologi yang lain, Daud Ario Tanudirjo, persebaran para penutur Proto Malayo Polynesia tersebut terjadi sekitar 4.000 hingga 3.300 tahun yang lalu. Hal itu ditandai luasnya distribusi gerabah berpoles merah.

Kemampuan mereka mengarungi lautan jarak jauh, mendorongnya untuk terus mencari daerah baru yang kemungkinan lebih baik atau lebih nyaman untuk hidup. Mereka telah mengenal strategi lompat katak. Dari pulau yang satu melompat ke pulau yang lain yang lebih dekat. Demikian seterusnya sampai mereka tiba di pulau yang paling jauh.

Bahasa Proto Malayo Polynesia tersebut berkembang di kawasan barat Nusantara sedangkan di kawasan Halmahera, Maluku berkembang bahasa-bahasa “Proto Central Malayo Polynesia”. Bahasa-bahasa “Proto Eastern Malayo Polynesia” berkembang di daerah Kepala Burung, Papua Barat dan bahasa-bahasa “Proto Oceanic” berkembang di Kepulauan Bismarck, Pasifik Barat dan sekitarnya.

Semua proto-bahasa dalam bentuk ini, dari Proto Malayo Polynesia hingga ke Proto Oceania menunjukkan kesamaan kognat yang tinggi, yakni lebih dari 84 persen dari 200 pasangan kata. Demikian menurut pakar arkeologi Daud Aris Tanudirjo.

Sementara itu menurut pakar bahasa Austronesia, Peter Bellwood, berbagai proto-bahasa yang pernah tersebar dari Filipina sampai Kepulauan Bismarck boleh dikatakan satu bahasa namun dengan sedikit perbedaan variasi dialek.

Austromelanesoid – Mongoloid
Dari hasil penemuan dan penelitian di Pegunungan Sewu (bagian tengah Jawa Tengah-Jawa Timur), para ahli menemukan kohabitasi (bercampurnya dua suku bangsa di suatu wilayah) yaitu ras Australomelanesoid dengan ras Mongoloid dalam waktu yang hampir bersamaan. Kohabitasi dua ras tersebut jauh sebelum datangnya para penutur Austronesia yang berciri ras Mongoloid.

Dalam situs purbakala di kawasan Jateng-Jatim tersebut ditemukan kerangka Austromelanesoid yang dikubur dalam posisi terlipat. Di tempat yang sama juga ditemukan kerangka Mongoloid dikubur dalam posisi terbujur.



Penemuan kerangka manusia purba di daerah Wajak (dekat Tulungagung, Jawa Timur) menunjukkan ciri-ciri ras Mongoloid pada bagian wajahnya, sekaligus menunjukkan ciri-ciri ras Austromelanesid pada bentuk umum tengkoraknya. Dari bukti-bukti yang tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah:
1.            Percampuran antara dua ras Austromelanesoid dan Mongoloid yang mendiami bumi Nusantara ini, datang gelombang demi gelombang, dalam waktu berabad-abad, kemudian bercampur dengan
2.            Rumpun Asia, bercampur lagi dengan
3.            Rumpun Aria dari India, dan bercampur lagi dengan
4.            Bangsa Semit di masa-masa modern sesudahnya.
Dari analisis tersebut maka akan sulit untuk menentukan siapa sebenarnya diantara kita yang pantas disebut bangsa Indonesia ASLI. Apalagi di zaman sekarang, ketika perpindahan penduduk dari satu negeri ke negeri lain bisa dilakukan dengan mudahnya.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah, karena bangsa kita bersumber dari nenek moyang yang sama (Nabi Adam AS), maka tidaklah pantas membedakan orang Jawa, orang Batak, orang Cina, orang Bugis dan suku-suku lainnya dengan kata pribumi atau non-pribumi. Masing-masing kita memiliki perawakan, tradisi, bahasa, ataupun kebiasaan dan keberhasilan dalam hidup yang berbeda, tapi kita semua adalah manusia Indonesia, yang bisa saling menguatkan dan mengisi kekurangan satu sama lain untuk membangun tanah air tercinta.
BHINEKA TUNGGAL IKA !!!

Friday, May 3, 2013

BIOGRAFI TOKOH SOSIOLOGY


PENGANTAR
Studi Sosiologi sesungguhnya telah mulai sejak adanya August Comte yang telah melahirkan gagasan yang biasa dikenal madzhab positivisme. August Comte mencetuskan istilah sosiologi ini dalam sebuah bukunya sebagai hasil karya yang terkenal dengan nama Cours De Philosophie Positive jilid 4 guna menunjukan ilmu tentang kemasyarakatan  sejak saat itulah peggunaan istilah sosiologi tidak banyak berubah. August Comte sangatlah menekankan sosiologi pada makna ilmiah. Menurut pandangan Comte dalam positivismenya disiplin sosiologi terikat pad aide mendasar yang menyatakan bahwa seseorang harus menggunakan metode-metode pengamatan yang dipakai oleh ilmu-ilmu alam untuk mempelajari gejala-gejala sosial pada masyarakat. Kelak suatu hari tokh-tokoh sosiologi yang terkenal yang diakui sebagai bapak pendiri sosiologi sebagai disiplin akademik yakni Emile Durkheim, Max Weber, Geroge Simmel sepakat dengan pernyataan August Comte dengan memberikan pernyataan bahwa “kita harus memperlakukan fakta-fakta sosial sebagaimana kita memperlakukan benda-benda yang riil”. Kendati kemudian para ahli sosiologi modern tidak seluruhnya sepakat dan menganut pandangan-pandangan ini.
Perkembangan sosiologi di dunia modern sejak akhir abad 19 mulai tumbuh dan berkembang pesat seiring dengan berkembangnya derivasi disiplin ilmu sosiologi ini yang selanjutnya dalam sosiologi kontemporer, perspektif yang dipakai sedikit  berbeda dengan ide-ide formatif dari tokoh-tokoh sosiologi modern dan formatif seperti Emille Durkheim, Max Weber, George Simmel sehingga tidak mengherankan jika pandangan-padangan mereka terdapat perbedaan yang menjadikan ilmu sosiologi begitu bervariasi dan cepat berkembang...




1.Auguste  Comte (1798-1857)

 Auguste Comte seorang perancis, merupakan bapak sosiologi yang pertama memberi nama pada ilmu  tersebut (yaitu dari kata socius dan logos). Walaupun dia tidak menguraikan secara rinci masalah-masalah apa yang menjadi objek sosiologi, tetapi dia mempunyai anggapan bahwa sosiologi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu social statistics dan social dynamics. Konsepsi tersebut merupakan pembagian dari isi sosiologi yang sifatnya pokok sekali. Sebagai social statistics, sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sedangkan social dynamics meneropong bagaimana lembaga-lembaga tersebut berkembang dan mengalami perkembangan sepanjang masa. Perkembangan tersebut pada hakikatnya melewati tiga tahap, sesuai tahap-tahap pemikiran manusia yaitu:
a.    Tahap teologis, ialah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda didunia ini mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh sesuatu kekuatan yang berada di atas manusia. Cara pemikiran tersebut tidak dapat dipakai dalam ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan bertujuan untuk mencari sebab serta akibat dari gejala-gejala.
b.    Tahap metafisis, pada tahap ini manusia masih percaya bahwa gejala-gejala didunia ini disebabkan oleh kekuatan-kekuatan yang berada di atas manusia. Manusia belum berusaha untuk mencari sebab dan akibat gejala-gejala tersebut.
c.    Tahap positif, merupakan tahap dimana manusia telah sanggup untuk berfikir secara ilmiyah. Pada tahap ini berkembanglah ilmu pengetahuan.
Menurut Comte, masyarakat harus diteliti atas dasar fakta-fakta objektif dan dia juga menekankan pentingnya penelitian-penelitian perbandingan antara pelbagai masyarakat yang berlainan.
            Hasil karya Auguste Comte yang terutama yaitu:
            - The scientific labors necessary for the reorganization of society (1822)
            - The positive  philosophy (6 jilid 1830-1840)
            - Subjective synthesis (1820-1903)
Refrensi:
  • www.wikipedia.com
  • Beilharz, Peter. 2002. Teori-Teori Sosial.Jogjakarta: pustaka pelajar
  • Soekanto, Soejono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

 

 

2. EMILE DURKHEIM

Biografi

Durkheim dilahirkan di Épinal, Prancis, yang terletak di Lorraine. Ia berasal dari keluarga Yahudi Prancis yang saleh - ayah dan kakeknya adalah Rabi. Meskipun keputusannya untuk meniti karir yang lebih cenderung pada bidang intelektualitas secular daripada religius. Hal tersebut menandakan bahwa ia lebih mengutamakan modernitas dibandingkan agama. Kebanyakan dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari faktor-faktor sosial dan bukan ilahi. Namun demikian, latar belakang Yahudinya membentuk sosiologinya - banyak mahasiswa dan rekan kerjanya adalah sesama Yahudi, dan seringkali masih berhubungan darah dengannya.
Durkheim adalah mahasiswa yang cepat matang. Ia masuk ke École Normale Supérieure pada 1879. Angkatannya adalah salah satu yang paling cemerlang pada abad ke-19 dan banyak teman sekelasnya, seperti Jean Jaurès dan Henri Bergson kemudian menjadi tokoh besar dalam kehidupan intelektual Prancis. Di ENS Durkheim belajar di bawah Fustel de Coulanges, seorang pakar ilmu klasik, yang berpandangan ilmiah sosial. Pada saat yang sama, ia membaca karya-karya Auguste Comte dan Herbert Spencer. Jadi, Durkheim tertarik dengan pendekatan ilmiah terhadap masyarakat sejak awal kariernya. Ini adalah konflik pertama dari banyak konflik lainnya dengan sistem akademik Prancis, yang tidak mempunyai kurikulum ilmu sosial pada saat itu. Durkheim merasa ilmu-ilmu kemanusiaan tidak menarik. Ia lulus dengan peringkat kedua terakhir dalam angkatannya ketika ia menempuh ujian agrégation sebagai syarat untuk posisi mengajar dalam pengajaran umum dalam ilmu filsafat pada 1882. Dan ia mengajar filsafat di sejumlah Lyceebeberapa tahun kemudian.
Seseorang yang berpandangan seperti Durkheim tidak mungkin memperoleh pengangkatan akademik yang penting di Paris, dan karena itu setelah belajar sosiologi selama setahun di Jerman, ia pergi ke Bordeaux pada 1887, yang saat itu baru saja membuka pusat pendidikan guru yang pertama di Prancis. Ia mengajar pedagogi dan ilmu-ilmu sosial (suatu posisi baru di Prancis) di fakultas sastra burdeaux. Dari posisi ini Durkheim memperbarui sistem sekolah Prancis dan memperkenalkan studi ilmu-ilmu sosial dalam kurikulumnya. Kembali, kecenderungannya untuk mereduksi moralitas dan agama ke dalam fakta sosial semata-mata membuat ia banyak dikritik. Pada tahun yang sama ia menikah dengan Louise Dreyfus, yang mencurahkan masa hidup selanjutnya mmembantu kerja intelektual Durkheim, memikul tanggung jawab penuh untuk urusan rumah tangga dan pendidikan dua anaknya, menyalin berbagai manuskrip, mengoreksi naskah, dan terlibat dalam administrasi editorial Annee Sociologique, yang di bentuk durkheim tahun 1898.
Minat Durkheim dalam fenomena sosial juga didorong oleh politik. Kekalahan Prancis dalam Perang Prancis-Rusia telah memberikan pukulan terhadap pemerintahan republikan yang sekuler. Banyak orang menganggap pendekatan Katolik, dan sangat nasionalistik sebagai jalan satu-satunya untuk menghidupkan kembali kekuasaan Prancis yang memudar di daratan Eropa. Durkheim, seorang Yahudi dan sosialis, berada dalam posisi minoritas secara politik, suatu situasi yang membakarnya secara politik. Peristiwa Dreyfus pada 1894 hanya memperkuat sikapnya sebagai seorang aktivis.
Tahun 1890-an adalah masa kreatif Durkheim. Pada 1893 ia menerbitkan “The division of Labour in Society”, pernyataan dasariahnya tentang hakikat masyarakat manusia dan perkembangannya. Pada 1895 ia menerbitkan “The Rules of Sosiological Method ”, sebuah manifesto yang menyatakan apakah sosiologi itu dan bagaimana ia harus dilakukan. Ia pun mendirikan Jurusan Sosiologi pertama di Eropa di Universitas Bourdeaux. Pada 1896 ia menerbitkan jurnal L'Année Sociologique untuk menerbitkan dan mempublikasikan tulisan-tulisan dari kelompok yang kian bertambah dari mahasiswa dan rekan (ini adalah sebutan yang digunakan untuk kelompok mahasiswa yang mengembangkan program sosiologinya). Dan akhirnya, pada 1897, ia menerbitkan “Suicide”, sebuah studi kasus yang memberikan contoh tentang bagaimana bentuk sebuah monograf sosiologi.
Pada 1902 Durkheim akhirnya mencapai tujuannya untuk memperoleh kedudukan terhormat di Paris ketika ia menjadi profesor di Sorbonne. Karena universitas-universitas Prancis secara teknis adalah lembaga-lembaga untuk mendidik guru-guru untuk sekolah menengah, posisi ini memberikan Durkheim pengaruh yang cukup besar, kuliah-kuliahnya wajib diambil oleh seluruh mahasiswa. Apapun pendapat orang, pada masa setelah Peristiwa Dreyfus, untuk mendapatkan pengangkatan politik, Durkheim memperkuat kekuasaan kelembagaannya pada 1912 ketika ia secara permanen diberikan kursi dan mengubah namanya menjadi kursi pendidikan dan sosiologi. Pada tahun itu pula ia menerbitkan karya besarnya yang terakhir “Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Keagamaan”.
Perang Dunia I mengakibatkan pengaruh yang tragis terhadap hidup Durkheim. Pandangan kiri Durkheim selalu patriotik dan bukan internasionalis. Ia mengusahakan bentuk kehidupan Prancis yang sekular, rasional. Tetapi datangnya perang dan propaganda nasionalis yang tidak terhindari yang muncul sesudah itu membuatnya sulit untuk mempertahankan posisinya. Sementara Durkheim giat mendukung negaranya dalam perang, rasa enggannya untuk tunduk kepada semangat nasionalis yang sederhana (ditambah dengan latar belakang Yahudinya) membuat ia sasaran yang wajar dari golongan kanan Prancis yang kini berkembang. Yang lebih parah lagi, generasi mahasiswa yang telah dididik Durkheim kini dikenai wajib militer, dan banyak dari mereka yang tewas ketika Prancis bertahan mati-matian. Akhirnya, René, anak laki-laki Durkheim sendiri tewas dalam perang, sebuah pukulan mental yang tidak pernah teratasi oleh Durkheim. Selain sangat terpukul emosinya, Durkheim juga terlalu lelah bekerja, sehingga akhirnya ia terkena serangan lumpuh dan meninggal pada 1917.

Teori dan gagasan

Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer, Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat, suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekadar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya, Max Weber, ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi (individualisme metodologis), melainkan lebih kepada penelitian terhadap "fakta-fakta sosial", istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan yang tidak terikat kepada tindakan individu. Ia berpendapat bahwa fakta sosial mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih objektif daripada tindakan-tindakan individu yang membentuk masyarakat dan hanya dapat dijelaskan melalui fakta-fakta sosial lainnya daripada, misalnya, melalui adaptasi masyarakat terhadap iklim atau situasi ekologis tertentu.
Durkheim berpendapat bahwa masyarakat bukanlah sekedar jumlah total individu-individu, dan bahwa sistem yang dibentuk oleh bersatunya mereka itu merupakan suatu realitas spesifik yang memiliki karakteristiknya sendiri. Misalnya suatu partai poliik atau gereja, di samping terdiri dari anggotaaggota individual juga memiliki struktur, sejarah, pandangan dunia, dan kultur uang terlembaga, yang tidak dapat diterangkan dalam rangka psikologi individual. ”kalau kitaberangkat dari individu”. Ujar Durkheim, kita tidak akan bisa memahami apa yang terjadi dalam suatu kelompok. Ia sama sekali menolak gagasan bahwa masyarakat bermula dari kontrak sosial belum pernah satu masa pundi mana individu-individu diarahkan oleh pertimbangan yang cermat untuk bergabung ataupun tidak bergabung ke dalam kehidupan kolektif yang satu daripada yang lain. Bagi durkheim, masyarakat-prinsip asosiasi- adalah yang utama, dan karena masyarakat secara tidak terbatas mengungguli individu dalam ruang dan waktu, maka masyarakat berada pada posisi yang menentukan cara bertindak dan berpikir terhadapnya.[1]
Dalam bukunya “The Division of Labour in Society” (1893), Durkheim meneliti bagaimana tatanan sosial dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia memusatkan perhatian pada pembagian kerja, dan meneliti bagaimana hal itu berbeda dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern. Para penulis sebelum dia seperti Herbert Spencer dan Ferdinand Toennies berpendapat bahwa masyarakat berevolusi mirip dengan organisme hidup, bergerak dari sebuah keadaan yang sederhana kepada yang lebih kompleks yang mirip dengan cara kerja mesin-mesin yang rumit. Durkheim membalikkan rumusan ini, sambil menambahkan teorinya kepada kumpulan teori yang terus berkembang mengenai kemajuan sosial, evolusionisme sosial, dan darwinisme sosial. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat ‘mekanis’ dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama, dan karenanya mempunyai banyak kesamaan di antara sesamanya. Dalam masyarakat tradisional, kata Durkheim, kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual, norma-norma sosial kuat dan perilaku sosial diatur dengan rapi. Dan ia mengemukakan bukti-bukti sejarah menunjukan bahwa individualisme, yang oleh para emikir sosial konservatif dianggap bertanggung jawab atas runtuhnya tatanan sosial, sebenarnya adalah produk sosial juga, yang hanya terdapat pada masyarakat-masyarakat yang kompleks dan berdasarkan pembagian kerja.
Dalam masyarakat modern, demikian pendapatnya, pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas 'organik'. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesamanya, karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Dalam masyarakat yang ‘mekanis’, misalnya, para petani gurem hidup dalam masyarakat yang swa-sembada dan terjalin bersama oleh warisan bersama dan pekerjaan yang sama. Dalam masyarakat modern yang 'organik', para pekerja memperoleh gaji dan harus mengandalkan orang lain yang mengkhususkan diri dalam produk-produk tertentu (bahan makanan, pakaian, dll) untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini, demikian Durkheim, ialah bahwa kesadaran individual berkembang dalam cara yang berbeda dari kesadaran kolektif – seringkali malah berbenturan dengan kesadaran kolektif.
Durkheim menghubungkan jenis solidaritas pada suatu masyarakat tertentu dengan dominasi dari suatu sistem hukum. Ia menemukan bahwa masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis hokum seringkali bersifat represif: pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman, dan hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu; hukuman itu bertindak lebih untuk mempertahankan keutuhan kesadaran. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memiliki solidaritas organic, hukum bersifat restitutif: ia bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks.
Jadi, perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Durkheim menamai keadaan ini anomie. Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah bunuh diri.
Durkheim belakangan mengembangkan konsep tentang anomie dalam "Suicide", yang diterbitkannya pada 1897. Dalam bukunya ini, ia meneliti berbagai tingkat bunuh diri di antara orang-orang Protestan dan Katolik dengan menggunakan statistik untuk membuktikan jumlah rata-rata bunuh diri berfariasi sesuai dengan perubahan solidaritas sosial,  dan hal tersebut menjelaskan bahwa kontrol sosial yang lebih tinggi di antara orang Katolik menghasilkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah. Menurut Durkheim, orang mempunyai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok mereka, yang disebutnya integrasi sosial. Tingkat integrasi sosial yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini karena rendahnya integrasi sosial menghasilkan masyarakat yang tidak terorganisasi, menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir, sementara tingkat yang tinggi menyebabkan orang bunuh diri agar mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. Dan dapat disimpulkan bahwa tindakan bunuh diri yang tampaknya bersifat pribadi itu sebenarnya merupakan respons terhadap kekuatan sosial. Menurut Durkheim, masyarakat Katolik mempunyai tingkat integrasi yang normal, sementara masyarakat Protestan mempunyai tingat yang rendah. Karya ini telah mempengaruhi para penganjur teori kontrol, dan seringkali disebut sebagai studi sosiologis yang klasik.
Akhirnya, Durkheim diingat orang karena karyanya tentang masyarakat 'primitif' (artinya, non Barat) dalam buku-bukunya seperti "Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Agama" (1912) dan esainya "Klasifikasi Primitif" yang ditulisnya bersama Marcel Mauss. Kedua karya ini meneliti peranan yang dimainkan oleh agama dan mitologi dalam membentuk pandangan dunia dan kepribadian manusia dalam masyarakat-masyarakat yang sangat 'mekanis' (meminjam ungkapan Durkheim).

Refrensi
  • www.wikipedia.com
  • Beilharz, Peter. 2002. Teori-Teori Sosial.Jogjakarta: pustaka pelajar
  • Soekanto, Soejono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada



3. MAX WABER
Biografi
          
  Max Waber, lahir di Erfurt, Thuringia, Jerman Timur pada tanggal 21 April 1864 sebagai anak sulung dari keluarga terpandang yang memberikan penilaian tinggi terhadap suatu pendidikan dan kebudayaan. Pendidikan lanjutannya di Universitas Heidelberg pada Fakultas Hukum namun perhatiannya terhadap bidang filsafat dan ekonomi membuatnya mengikuti kuliah-kuliah dalam bidang filsafat dan ekonomi tersebut secara teratur dan disiplin.
            Pada tahun 1883, Max memasuki pendidikan militer yang membuka kemungkinan untuk ia menjadi seorang perwira cadangan bagi mereka yang berpendidikan sarjana. Setelah menyelesaikan pendidikan militer ia tak kembali pada Universitas Heidelberg tetapi ia meneruskan studinya di Universitas Berlin, di sana ia mendapatkan ajaran-ajaran Gneist (pengetahuan masalah keparle- menan Inggris), Gierke (pemahaman terhadap sejarah hukum Jerman) dan Treitschke (mengenai permasalahan Nasionalisme). Setelah itu ia menetap sejenak di Gottingen.
            Pada tahun 1886, Max kembali ke Universitas Berlin guna menempuh ujian ilmu hukum yang sehingga dengan terpaksa ia harus menerima tugas untuk menempati suatu kedudukan di Pengadilan Pidana Berlin. Namun Max merasa pekerjaan tersebut membosankan sehingga ia memilih meneruskan studinya di bawah bimbingan Prof.Mommsen dan menulis disertasinya “A Contribution to the history of Medieval Business Organization” dengan melibatkanilmu hukum, ekonomi dan sejarah. Setelah itu ia meneruskan kegiatannya menganalisa sejarah agraris masyarakat Romawi dilihat dari sudut pandang perkembangan politik, ekonomi dan social yang tersaji dalamsebuah buku terbitan tahun 1891 untuk memenuhi persyaratan menjadi seorang dosen ilmu hukum di Universitas Berlin.
            Pada tahun 1892 Max menikahi Marianne Schnitger, bersamaan itu ia memulai memberikan kuliah –kuliah secara formal pada Universitas Berlin. Pada tahun 1894 Max mendapat tawaran menjadi seorang guru besar tetap pada Universitas Freiburg, tak lama kemudian diangkat menjadi guru besar ekonomi pada Universitas Heidelberg tempat dimana ia bisa menikmati kehidupan intelektualnya dengan penuh gairah. Namun Max mengalami kemerosotan mental yang sangat serius, sehingga seluruh kegiatannya terhenti selama hampir 4 tahun. Keadaanya mulai pulih pada tahun 1903 dan semenjak itu ia menekuni masalah metode-metode ilmu social.
Pada tahun 1904 untuk pertama kalinya Max mengunjungi Amerika Serikat untuk mengikuti suatu kongres ilmu pengetahuan sedunia di kota St. Louis. Dalam tahun yang sama Max menerbitkan buku “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” yang menganalisa awal timbulnya kapitalisme dengan maksud agar diperoleh pemahaman mengenai pentingnya kapitalisme ekonomi maupun akibatnya pada tahap kontemporer.
            Pada tahun 1907, Max mengundurkan diri dari kegiatan memberikan kuliah pada Universitas Heidelberg dan melanjutkan peranannya sebagai ilmuwan pribadi. Selama Perang Dunia Pertama berkecamuk, Max menjadi seorang administrator Rumah Sakit Angkatan Bersenjata Jerman. Pada tahun 1918 ia menjadi konsultan pada Komisi Gencatan Senjata Jerman dan penasihat Komite Reformasi Konstitusional Jerman. Max Waber  meninggal pada tahun 1920 dalam usia 56 tahun saat ajarannya mengenai pendidikan politik sudah mulai berkembang.
Teori Dan Gagasan
            Menurut Weber, perilaku manusia merupakan perilaku social yang harus mempunyai tujuan tertentu dan terwujud dengan jelas. Untuk menganalisa perilaku sosial tersebut Weber menciptakan tipe-tipe perilaku ideal sebagai pola yang biasa disebut “ideal typus” agar dapat membandingkannya dengan perilaku actual yang dimaksudkan sebagai ekspresi semua formulasi dan batasan konseptual dalam sosiologi. Pengartian tipe ideal dirumuskan dengan cara memberikan tekanan sepihak serta intensifikasi terhadap satu atau beberapa aspek suatu peristiwa yang mencerminkan struktur mental yang seragam.
            Weber menekankan bahwa tipenya itu harus merupakan suatu kemungkinan yang kuat dengan minimal harus mendekati kebenaran empiris. Tipe ideal juga bersifat deskriptif murni dan tidak boleh disalahgunakan untuk menjelaskan data yang diungkapkannya. Tipe ideal merupakan suatu sarana untuk menyusun klasifikasi yang berguna untuk mengatur kategori-kategori secara sistematis dari semua hasil pengamatanyang pernah dilakukan. Selain itu,bentuk perilaku social yang terpenting adalah perilaku social yang timbal balik (resiprokal) yang tercermin dalam pengantian hubungan social sebagai tema sentral sosiologi.
            Suatu hubungan social ada apabila para individu secara mutual mendasarkan perilakunya pada perilaku yang diharapkan pihak-pihak lain. Beberapa tipe hubungan social diantaranya:
  1. Perjuangan, suatu bentuk hubungan social yang menyangkut perilaku individu sedemikian rupa sehingga salah satu pihak memaksakan kehendaknya terhadap perlawanan pihak lain.
  2. Komunalisasi, hubungan social yang didasarkan pada perasaan subyektif baik bersifat emosional , tradisional maupun kedua-duanya.
  3. Agregasi, hubungan social keserasian dan kecocokan motivasi rasional atau keseimbangan berbagai kepentingan.
  4. Kelompok Korporasi, hubungan social yang berkaitan dengan wewenang yang dilandaskan pada kegiatan seorang pemimpin dan suatu staf administrasinya.
Keempat hubungan social tersebut mungkin terbuka ataupun tertutup tergantung pada dasar peran sertanya, yakni sukarela atau paksaan.
          Selain Ideal typus, Max Waber juga terkenal dengan Method of understanding yang menghasilkan dua cara untuk mendapatkan pemahaman dan dua jenis pemahaman yang harus diperhitungkan. Suatu perilaku dapat dipahami secara intelektual bila perilaku tersebut rational, tergantung pola perilaku yang terwujud dengan cara yang dianggap logis yang sesuai dengan urutan perilaku yang dapat diduga. Dan suatu perilaku juga bisa dipahami dengan menggunakan perasaan bila perilaku tersebut bersifat irrational dengan jalan memproyeksikan diri sendiri ke dalam situasi irasional tersebut.      
Refrensi:


4. KARL MAX

Biografi


Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. ayahnya, seorang pengacara, menafkai keluarganya dengan relatif baik, khas kehidupan kelas menengah. Orang tuanya adalah dari pendeta yahudi (rabbi). Tetapi, karena alasan bisnis ayahnya menjadi penganut ajaran Luther ketika Karl Marx masih sangat muda. Tahun 1841 Marx menerima gelar doktor filsafat dari Universitas Berlin, Universitas yang sangat di pengaruhi oleh Hegel dan guru - guru muda penganut filsafat Hegel, tetapi berpikir Kritis. Gelar doktor Marx di dapat dari kajian filsafat yang membosankan, tetapi kajian itu mendahului berbagai gagasannya yang muncul kemudian.

            Setelah tamat ia menjadi penulis untuk sebuah koran liberal radikal dan dalam tempo 10 bulan ia menjadi editor kepala koran itu.
Tetapi karena pendirian politiknya, koran itu kemudian di tutup pemerintah. Esai–esai awal yang di terbitkan dalam periode mulai mencerminkan sebuah pendirian yang membiumbing Marx sepanjang hidupnya. Esai-esai tulisan Marx itu secara bebas di taburi prinsip-prinsip demokrasi , ia menolak keabstrakat filsafat hegelian, mimpi naif komunis utopiadan gagasan aktivis yang mendesak apa yang ia anggap sebagai tindakan politik prematur. Dalam menolak gagasn aktivis ini Marx meletakkan landasan bagi gagasan hidup sendiri.

           Upaya praktis, bahkan dalam mengarahkan massa sekalipun, akan di jawab dengan meriam saat upaya itu di anggap berbah. tetapi, gagasan yang dapat mengarahkan intelektual kitadan yang menaklukkan keyakinan kita, gagasan yang dapat membekukan kita, merupakan belenggu – belenggu di mana seorang hanya bisa lepas darinya dengan mengorbankan nyawanya; gagasan-gagasan itu seperti setan sehingga orang hanya dapat mengatasinya dengna menyerah kepada Marx.

           Marx menikah pada 1843 dan tak lama kemudian ia terpaksa meninggalkan jerman untuk dapt suasana yang lebih libaral di Paris. Di Paris ia bergualat dengan gagasan Hegel dan pendukungnya, tetapi ia juga menghadapi dua kumpulan gagasan baru – sosialisme Prancis dan politik Ekonomi Inggris.
Dengan cara yang unik dia menggabungkan hegelian, sosialisme dan ekonomi politik yang kemudian menentuka orientasi intelektualnya. Hal yang sangat penting pula adalah pertemuannya dengan orang yang kemudian menjadi teman seumur hidupnya, donatur dan kolabolatornyayakni Fredrich Engels (Carver, 1983) Engels anak penguasa pabrik tekstil menjadi seorang sosialis yang mengkritik kondisis kehidupan yang di hadapi kelas buruh. Banyak di antara rasa kasihan Marx kesengsaraan kelas buruh berasal dari paparannya kepada Engels dan gagasannya sendiri. Tahun 1844 Marx dan Engels mengadakan diskusi panjang di sebuah Café terkenal di Paris dan meletakkan landasan kerja untuk bersahabat seumur hidup. Mengenai diskusi itu Engels berkata ”kesepakatan lengkap kami dalam dalam semua budang teori menjadi nyata….dan perjanjian kerja sama kami mulai sejak itu”(McLellan, 1993:131) di tahun berikutnya Engels menerbitkan karya the condition Of The Working Class in England. Selama periode itu Marx menerbitkan sejumlah karya yang sangat sukar di pahami (kebenyakan belum di terbitkan semasa hidupnya) termasuk the Holy Family dan The German ideology (di tulis bersama Engels)dan ia pun menulis the economic and philosophic manuscripts 1844 yang menandakan perhatiannya terhadap bidang ekonomi main meningkat.

             Meski Marx dan Engels mempunya orientasi teoritis yang sama, namun ada juga beberapa perbedaan di antara mereka. Marx cenderung menjadi seorang intelektual teoritis yang kurang teratur dan sangat berorientasi kepada keluarga. Engels adalah pemikir praktis, rapi dan pengusaha teratur dan orang yang tak percaya pada lembaga keluarga. Meski mereka berbeda, Marx dan Engels menempa kerja sama yang akrab sehingga mereka berkolabirasi menulis buku dan artikel dan bekerja sama dalam organisasi radikal, dan bahka Engels membantu membiayai Marx selama sisa hidupnya sehingga memungkinkan marx mencurahklan perhatiannya pada kegiatan intelektual dan politiknya.
Meski ada asosiasi erat antara nama Marx dan Engels, namun Engels menjelaskan bahwa ia teman junior, Marx mampu berkarya sangat baik tanpa aku.
Aku tidak pernah mencapai prestasi seperti yang di capai Marx. Pemahaman Marx lebih tinggi, pengalamannya lebih jauh dan pandangannya lebih luas serta cepat ketimbang aku. Marx adlah jenius(Engels, di kutip dalam McLellan,1973;131-132)

             Banyak yang percaya bahwa Engels gagal memahami berbagai seluk beluk Marx. Setelah Marx meninggal, Engels menjadi juru bicara utama bagi teori marxian dan dalam berbagai cara menyimpangkan dan terlalu menyerderhanakannya, meski ia tetap setia terhadap perspektif politik yang ia tempa bersama Marx.Karena beberapa tulisannya telah menggangu pemerintahan prusia, pemerintah perancis (atas permohonan prusia) mengusir Marx tahun 1845 dan karenanya Marx pindah ke Brussel.
Radikelismenya meninggkat dan ia menjadi anggota aktif di bidang gerakan revolusioner internasional. Ia pun bergabung dengan liga komunis dan bersama Engels diminta menulis anggaran dasar liga itu, hasilnya adalah manifestor komunis 1848, sebuah karya besar yang di tandai oleh slogan-slogan politik yang termasyur (misalnya ‘kaum buruh seluruh dunia bersatulah).

              Tahun 1849 ia pindah ke london dan, mengingat kegagalan revolusi politik tahun 1848, ia menarik diri dari aktivitas revolusioner dan beralis ke kegiatan rsiset yang lebih rinci tentang peran sistem ka[pitalis. Study ini akhirnya menghasilkan tiga jilid buku das kapital.jilid pertama di terbitkan tahun 1867; kedua jilid yang lainya di terbitkan sesudah ia meninggal. Selama riset dan menulis itu ia hidup dalam kemiskinan, membiayai hidupnya secara sederhana dari honorarium tulisannya dan bantuan dana dari Engels. Tahun 1864 Marx terlibat kembali dalam kegiatan politik, bergabung dengan ‘The Internasional’, sebuah gerakan buruh internasio nal. Ia segera menonjol dalam gerakan itu dan mencurahkan perhatian selama beberapa tahun untuk gerakan itu. Ia mulai mendapat popularitas, baik sebagai pimpinan internasional maupun sebagai penulis des kapital. Perpecahan gerakan internasional tahun 1876, kegagalan dari berbagai gerakan revolusioner dan penyakit – penyakit, akhirnya membuat Marx ambruk. Istrinya wafat tahun 1881 dan anak perempuannya tahun 1882 dan Marx sendiri wafat di tahun 1883.

Teori dan gagasan
Karya Karl max dapat di tafsirkan dalam berbagai cara yang berbeda, yang meliputi kritik romantik  awal dalam Paris Manuscript, Marx sang filsuf, antropologi historis dalam The Germany Ideology, sejarah kritis dalam Eighteenth Brumaire atau the Civil War in France pemaparan ide-ide pribadi yang cerdas dalam Grundrisse, ekonomi kitis yang lebih mutakhir dalam Capital, Marx sang ekonom dll. Salah satu cara untuk dapat memperoleh wawasan yang utuh atas pemikiran marx adalah dengan membaca proyeknya sebagai suatu yang tercangkup dalam tema tunggal, yakni kritik atas ekonomi sosial. Karya teoritis Marx bermula dari kritik romantik, yang berangsur-angsur memasuki dunia ekonomi politik. Baru setelah kematiannya di tahun 1883 karyanya berpengaruh luas dalam bentuk propaganda yang sudah terpotong-potong yang kemudian dikembangkan oleh Soviet.



Paris Manuscript
Persoalan tentang hubungan Marx muda dan yang telah matang merupakan sebab utama Renaissance dalam diskusi tentang Marx yang berkembang sejak tahun 1960 sampai sekarang dan terus berlanjut. Masalah fundamental yang terkait disini apakah pemikiran Marx merupakan pemikiran yang berkesinambungan ataukah pergeseran kualitatif dalam karyanya. Bagaimanapun bentuk kesinambungan itu, arah yang ditempuh oleh Marx sendiri adalah berangkat dari praksis menuju struktur, dari tindakan yang menuju sistem.
Dalam Paris Manuscript yang terbit dalam bahasa jerman (1960-an), adalah untuk menempatkan ekonomi politik dalam pengujiannya. Para ekonom klasik seperti Smith telah mengakui pentingnya sumbangan ekonomis buruh terhadap produksi kekayaan (wealth) atau nilai, namun mereka tidak memberikan tempat yang layak pada buruh tersebut dalam politik maupun masyarakat. Sebagian ekonom melakukan hal tersebut  dengan menyelewengkan hakikat proses produksi kekayaan, seolah-olah kepemilikan mendahului kerja, padahal kepemilikan sesungguhnya hasil dari kerja kreatif atau praksis. Kaum buruh dengan demikian mengorbankan darah hidupnya untuk menciptakan  modal yang bergantung  pada tenaga buruh bagaikan seekor vampir. Kritik ekonomi politik tersebut membawa Marx pada kritik filsafat mengenai pembagian kerja. Arah yang ditujunya adalah kembali mempertentangkan antara perumusan pandangan atas kemanusiaan sebagai satu keutuhan sebelum adanya industrialisme yang tidak mengenal alienasi denagn kondisi yang terpecah-pecah dan kalah dalam kapitalisme. 
Arah yang tersembunyi dalam argumen tersebut adala perlunya pembebasan kemanusiaan atau poletarian. Dengan pembebasan tersebut Marx membayangkan adanya pergantian kepemilikan pribadi (modal) serta ditegakkannya kembali integritas kemanusiaan secara serentak. Dan ia pun menempatkan status utama kepada kaum buruh sebagai agen pembebas yang menderita. Imaji tentan sosialisme dalam karya awal Marx berupa suatu masyarakat yang terdiri dari kaum buruh yang cerdik.
Dalam Germany Ideologi Marx dan Engels mulai mengangkat persoalan ideologi, dan mengkritik suatu yang ironis, mengingat pengistimewaan terhadap kaum poelitariat dalam teori mereka, pretensi kaum borjuis bahwa kepentingan mereka sendiri tak lain adalah kepentingan rakyat umum. Tahun 1848, Marx dan Engels menerbitkan karyanya yang amat terkenal dengan judul The Communist Manifesto, sebuah polemik yang brilian yang menguraikan satu dimensi utama proyek Marx: satu penilaian atas peradaban kapitalis yang sangat ambivalen, peradaban yang menjadikan segala sesuatu itu menjadi mungkin, dan serentak memenyingkirkan realisasi-diri potensi kemanusiaan. Di sinilah muncul aksioma bahwa semua sejarah adalah sejarah perjuangan kelas. Di sini Marx mengembangkan  model dua kelas yang banyak ditiru oleh para sosiolog  dan sejarawan belakangan ini, dan merupakan konsep sentral dalam Capital. Sejarah bukan sekedar sejarah kelas-kelas yang berjuang, sejarah modern adalah peperangan besar antara dua kelas fundamental: borjuis dan poletar.

Grundriss
Pergeseran Marx dari tindakan menuju struktur, secara politis didorong oleh kekalahan revolusi 1848. jika tidak berubah yang jadi persoalan adalah mengapa tidak.bagaimana ia akan menjadi produksinya sendiri? Inilah yang menjadi logika esensial dalam Capital yang mana akan ambruk dan melahirkan sosialisme. Disni Marx membahas persoalan epistemologi dan metodologi. Dan ia berpendapat bahwa pengetahuan tidaklah ditemukan melainkan dikonstrksi , dan meskipun terkadang ia mengklaim setatus ilmiah untuk karyanya. Namun kenyataannya menunjukan bahwa ilmu pengetahuan kemanusiaan secara kualitatif merupakan jenis upaya yang berbeda dengan ilmu alam. Dengan begitu Marx secara implisit menyesuaikan proyeknya kembali ke proposisi Vico bahwa yang dapat diketahui manusia secara yang baik adalah sesuatu yang unik pada dirinya: sejarah manusia itu sendiri.
Selanjutnya Marx mendiskusikan masalah transisi dan feodalisme, lewat sebuah uraian yang yang banyak diperdebatkan dalam science and society tahun 1950-an. Dalam Capital  sebenarnya Marx kmbali ke gagasan awal bahwa sejarah merupakan suatu yang pentin, suatu proses yang penting untuk beralih dai feodalisme ke kapitalisme dan ke sosialisme. Marx bergeser menuju proposisi bahwa revolusi tekhnologilah, dan bukannya perjuangan kelas, yang mungkin bisa merealisasikan sosialisme. Perkembangan logika internal kapitalisme adalah bahwa otomatisasi akan dapat menggagalkan harapan yang bersumber  dari gagasan tentang relasikelas. Agen sejarah kembali dimitoskan: aktor-aktor sejarah bukan lagi umat manusia yang penuh makna dan menderita, namun adalah kekuatan sejarah yang berupa ekonomi bahkan tekhnologi. Eknomi adalah determinan  fundamental yang lantas  muncul superstruktur legal dan politis serta bentuk-bentuk kesadaran sosial yang pasti.


Capital
            Puncak mitologi dan pemikiran Marx adalah Capital. Bab I, “ Komoditas”, merupakan teoritis yang paling signifikan dan paling sulit. Marx mengemukakan kritik yang sangat mengena terhadap eika kapitalis dan utilitarian. Ia merujuk pada karya Aristoteles, Politics: segala sesuatu punya alasan sendiri untuk ada, masing-masing tak dapat disepadankan. Namun kodifikasi menjadikan segala sesuatu itu dapat diukur, segala sesuatu memiliki harganya/nilainya sendiri. Masyarakat borjuis mereduksi nilai kemanusiaan menjadi nilai ekonomis. Mereka menyamakan berbagai perbedaan yang seharusnya memiliki karakteristiknya masing-masing.
Subtansi buku tersebut adalah analisis kritis atas produksi kapitalis dari segi tertentu, buku tersebut menjadi pelopor sosiologi industri modern. Di buku ini menegaskan bahwa sosialisme sebagai pembebasan yang tak terelakkan, dan perjuangan masih merupakan hal utama di antara dua kelas fundamental dan dalam konsep-konsep dikemukakan, kerja dan modal.


Refrensi
  • www.wikipedia.com
  • Beilharz, Peter. 2002. Teori-Teori Sosial.Jogjakarta: pustaka pelajar
  • Soekanto, Soejono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada



5.HAERBERT SPENCER
Biografi

Herbert Spencer dilahirkan di Derby Inggris, 27 April 1820. Ia tak belajar seni Humaniora, tetapi di bidang teknik dan bidang utilitarian. Tahun 1837 ia mulai bekerja sebagai seorang insinyur sipil jalan kereta api, jabatan yang di pegangnya hingga tahun 1846.selama periode ini Spencer melanjutkan studi atas biaya sendiri dan mulai menerbitkan karya ilmiah dan politik.tahun 1848 spenser di tunjuk sebagai redaktur the economis dan gagasan intelektualnya mulai mantap. Tahun 1850 ia menyelesaikan karya besar pertamanya, Social Statis (1850).

Hasil karyanya yang terkenal antara lain :
·         Sosial Statistics (1850)
·         Principle of Psychology (1955)
·         Principle of Biology (2 jilid, 1864 dan 1961)
·         Principle of Etnics (1893)
·         Programme of a System of Synthetic Philosophy (1862-1896)
Dalam bukunya yang berjudul The Principle of  Sosiologi (3 jilid,1877), Herbert Spencer menguraikan materi sosiologi secara rinci dan sistematis. Spencer mengatakan bahwa obyek sosiologi yang pokok adalah keluarga, politik, agama, pengendalian diri, dan industri. Sebagai tambahan disebutkannya sosiasi, masyarakat setempat, pembagian kerja, masyarakat setempat, pembagian kerja, lapisan social, sosiologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan, serta penelitian terhadap kesenian dan keindahan. Buku tersebut menjadikan sosiologi menjadi populer di masyarakat dan berkembang pesat pada abad 20, terutama di Perancis, Jerman, dan Amerika.
Pada tahun 1879 ia mengetengahkan sebuah teori tentang Evolusi Sosial. Evolusi secara umum adalah serentetan perubahan kecil secara pelan-pelan, kumulatif, terjadi dengan sendirinya dan memerlukan waktu lama. Sedang evolusi dalam masyarakat adalah serentetan perubahan yang terjadi karena usaha-usaha masyarakat tersebut untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
 Ia juga menerapkan secara analog (kesamaan fungsi) dengan teori evolusi karya Charles Darwin (yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera) terhadap masyarakat manusia. Ia yakin bahwa masyarakat mengalami evolusi dari masyarakat primitif ke masyarakat industri. Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain. Ia menyoroti hubungan timbal-balik antara unsur-unsur masyarakat seperti pengaruh norma-norma atas kehidupan keluarga, hubungan antara lembaga politik dengan lembaga keagamaan.
Spencer mempopulerkan konsep ‘yang kuatlah yang akan menang’ (Survival of the fittest) terhadap masyarakat. Pandangan Spencer ini kemudian dikenal sebagai ‘Darwinisme sosial’. Ia mempercayai akan kehidupan maasyarakat yang akan tumbuh progresif menuju keadaan yang lebih baik, untuk itu masyarakat harus dibiarkan bekembang sendiri. masyarakat harus dilepas dari campur tangan eksternal yang diyakini justru memperburuk keadaan. Spencer menyetujui akan adanya evolusi darwin dalam konteks sosial, yaitu apabila dibiarkan dengan sendirinya teori itu akan berlaku dimana individu yang layak bertahan hidup akan berkembang, sedangkan individu yang yang tidak layak maka ia akan tersingkir.
Ajaran sistem sosial yang telah disepakati oleh Spencer adalah sebagai berikut:
1.      Masyarakat adalah organisme atau superorganis yang hidup berpencar-pencar.
2.      Antara masyarakat dan badan-badan yang ada di sekitarnya ada suatu equilibrasi tenaga agar kekuatannya seimbang.
3.      Konflik menjadi suatu kegiatan masyarakat yang sudah lazim.
4.      Rasa takut mati dalam perjuangan menjadi pangkal kontrol terhadap agama.
5.      Kebiasaan konflik kemudian diorganisir dan dipimpin oleh kontrol politik dan agama menjadi militerisme.
6.      Militerisme menggabungkan kelompok-kelompok sosial kecil menjadi kelompok sosial lebih besar dan kelompok-kelompok tersebut memerlukan integrasi sosial.
7.      Kebiasaan berdamai dan rasa kegotongroyongan membentuk sifat, tingkah laku serta organisasi sosial yang suka hidup tenteram dan penuh rasa setia kawan.
Spencer menitikberatkan pada 3 kecenderungan perkembangan masyarakat dan organisme:
1.      pertumbuhan dalam ukurannya,
2.      meningkatnya kompleksitas struktur, dan
3.      diferensiasi fungsi.

Refrensi :
·         Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 1990.
·         Buku Teori Sosiologi Klasik Karya Boedhi Oetoyo, dkk











PENUTUP

Setelah menelaah dan mempelajari riwayat hidup dan teori gagasan para sosiolog abad akhir 19 sebagai suatu pengantar untuk lebih memperdalam ilmu sosiologi yang nantinya akan memunculkan dan memberikan kesan awal pada sosiologi tersebut bahwa sosiologi itu sebagai ilmu pengetahuan yang terlampau abstrak. Sehingga terkadang timbul pendapat-pandapat kalau sosiologi itu bersiat khusus atau kurang peka terhadap kebtuhan-kebutuhan atau pertimbangan-pertimbangan sosial kemasyarakatan.
Kesan-kesan tersebut tidaklah begitu mengherankan  karena saat itu seorang sosiolog  Lynd pada tahun 30an dan Mills pada tahun 50an pernah memprediksinya. Sehingga mereka menyajikan pendapat mereka dalam buku-buku karya mereka ”Knowledge For What” dan ”The Sociological Imagination”. Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan yang melibatkan masyarakat sosiologi ikut berkembang serta mengalami peristiwa-peristiwa tertentu maupun masa-masa krisis. Setelah perang dunia ke-2 banyak sekali penelitian-penelitian yang dilakukan oleh ahli sosial terhadap masyarakat-masyarakat yang telah merdeka, baru merdeka, dan yang terlepas dari belenggu-belenggu penjajahan seperti halnya konflik rasialis kejahatan, ledakan penduduk, kemiskinan dan maslah-maslah sosial lain menjadi pusat objek penilitian-penelitian sosiologis tersebut. Dengan demikian pada waktu itu sosiologi secara relative cepat tanggap terhadap masalah-masalah sosial penting, sehingga dianggap sosiologi itu begitu penting untuk dapat ikut andil membantu memecahkan masalah-masalah sosial tersebut…
semoga bermanfaat kawan kawan..... :)